Home / Artikel / Ujian Kehidupan dan Jawabannya

Ujian Kehidupan dan Jawabannya

 

Tinulis ID – Sebuah ujian adalah takdir dan tradisi. Takdir karena manusia diciptaan Allah untuk diuji dan tradisi karena hubungan sosial antar manusia akan melahirkan begitu banyak ujian, cobaan dan juga fitnah.

Karena ujian adalah keniscayaan dalam kehidupan maka fitnah dan cobaan adalah keniscayaan dalam kemanusiaan.

Allah S. W. T berfirman: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q. S. Al-Baqarah: 155).

Takut adalah lawan dari rasa aman. Hidup yang dipenuhi dengan ketakutan terasa sangat menggelisahkan apalagi jika rasa takut itu diperburuk dengan kondisi raga yang lapar. Tidak ada manusia yang ingin mengalami kedua hal tersebut.

Namun ada masanya kita tidak bisa memilih ujian apa yang akan dilalui dalam tiap episode kehidupan. Takut dan lapar adalah contoh dari ujian yang bersifat menyedihkan.

Lain halnya dengan ujian yang bersifat menyenangkan. Perhatikan firman Allah di bawah ini:

“Dan ketahulah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (Q. S Al-Anfal: 28).

Atau dalam penjelasan ayat lain: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.”    (Q. S At-Taghabun: 14).

Isteri, keluarga dan harta termasuk ke dalam ujian yang sifatnya menyenangkan. Betapa banyak manusia yang gugur menghadapi ujian jenis ini.

Pada hakikatnya, segala macam bentuk ujian harus dijawab dengan deklarasi keimanan prestasi keshalihan dan kompetisi dalam kebaikan. Sebab semua itu adalah perintah Rasul pada ummatnya ketika menemui jaman yang penuh dengan ujian.

Guna menjawab ujian-ujian dalam hidup, perbaikan kualitas iman dan amal sangat diperlukan. Kita tidak boleh cepat berpuas diri atas kebaikan yang telah dilakukan sesekali saja atau pada ibadah-ibadah yang rutin dikerjakan tanpa adanya kemajuan.

Karena amal adalah buah dari keimanan, setelah seseorang menyatakan bahwa ia beriman pada Allah maka amal perbuatan yang dilakukannya harus mencerminkan keimanan tersebut.

Jauhi maksiat, pertebal iman. Semoga Allah menjaga kita dari segala bentuk keburukan dan memantapkan hati di jalan keimanan.

 

Sumber: Majalah Tarbawi. Edisi 67/ Th. 5/ Rajab 1424 H/ 4 September 2003

About Mariana Puspa Sari

Check Also

Harga dan Spesifikasi Lengkap Smartphone Lenovo K6 Terbaru

Harga dan Spesifikasi Lengkap Smartphone Lenovo K6 Terbaru

Tinulis ID – Lenovo, produsen smartphone dari China semakin menunjukkan keeksisannya di dunia smartphone. Setelah …