Home | Artikel | Trauma Healing Pada Anak

Trauma Healing Pada Anak

 

Tinulis ID – Berbeda dengan orang dewasa yang sudah terikat dengan berbagai norma dalam hidup, anak-anak masih fleksibel karena belum memliki banyak batasan.

Karenanya reaksi terhadap peristiwa traumatik yang dialami anak tergantung dari tahap perkembangan dan cara orang tua mereka menghadapinya. Balita biasanya bereaksi merengek, ketakutan, menagis terus, gemetar, menolak makan atau gangguan tidur.

Sementara pada anak usia SD yang sudah mampu mengingat keseluruhan kejadian traumatis secara detil akan muncul reaksi menarik diri, konsentrasi terganggu, mimpi buruk, masalah tidur, phobia (takut yang amat sangat), sensitif, gangguan psikosomatis (merasa ada gangguan fisik), menolak sekolah, agresif, cemas dan depresi.

Anak usia remaja umumnya akan mengalami hal yang sama . Reaksi tambahan yang mungkin muncul adalah tumpulnya perasaan (mati rasa), menghindari hal-hal yang mengingatkan kejadian, memiliki masalah dengan teman sebaya, agresif atau mulai mencoba menggunakan obat terlarang.

Bila bencana tersebut sampai menganngu sistem kekebalan mental anak, mereka bisa seperti orang yang mengalami gangguan jiwa. Penyembuhannya pun perlu penanganan khusus tenaga ahli dan terkadang membutuhkan obat.

Tapi secara umum, para relawan, saudara, kerabat para korban, pun bisa membantu menyembuhkan trauma mereka. Perlu ketulusan dan keikhlasan sehingga mereka bisa percaya, merasa aman dan nyaman.

Sediakan waktu untuk mendengarkan dan memahami anak, bersikaplah tulus dan berikan sentuhan fisik yang dibutuhkan kemudian lihatlah reaksinya.

Bila anak semakin ketakutan saat disentuh, berilah waktu padanya untuk mengenal anda. Pertahankan keteraturan dalam kegiatan rutin, khususnya balita.

Dengarkan dan toleran terhadap cerita anak, bantu anak untuk member nama sederhana terhadap perasaannya yang mendalam dan hargai rasa takut anak.

Hindari  bicara dan menanyakan fakta yang terlalu banyak, memberi harapan palsu, mempermasalahkan perubahan yang terjadi pada anak, dan membandingkannya dengan anak lain, tidak sabar, terlalu mengasihani dan memanjakan atau menjauhi anak.

Jauhi anak dari sumber yang mengingatkan trauma, misalnya tv, lokasi atau barang-barang tertentu.  Yang tidak kalah pentingnya adalah penanaman keyakinan tentang takdir Allah. Segala sesuatu yang terjadi pasti ada hikmahnya. Meski dalam prakteknya, semua itu butuh waktu.

Sumber Artikel: Majalah UMMI No. 10/XVI Februari 2005/ 1425 H

About Mariana Puspa Sari

3 comments

  1. teguh tri sutrisno

    Seringkali ini yang kurang menjadi perhatian dari orang tua jaman dulu, mereka kurang peduli tentang kemampuan anak dalam mengingat trauma, yang bisa terbawa sampai dewasa nanti. untuk orang tua sekarang, saya rasa sudah mulai paham.

    Lebih memperhatikan dan mendengarkan anak, adalah salah satu solusi yang paling tepat.