Home | Artikel | Tentang Lorong Lengang Jalan Pulang

Tentang Lorong Lengang Jalan Pulang

Tinulis ID – Akhir-akhir ini semangat literasi lambat laun mulai digalakkan kembali. Para pejuang literasi mulai mengangkat senjata dan menyebarkan virus-virus literasi kepada seluruh lapisan masyarakat. Dan bulan ini, lahir sebuah antologi puisi berjudul Lorong Lengang Jalan Pulang.

Lorong Lengang Jalan Pulang merupakan sebuah antologi puisi yang ditulis oleh teman-teman dari komunitas Negeri Kertas. Sebuah komunitas literasi yang dipunggawai oleh penyair, penulis sekaligus musisi asal Madiun, Fileski.(http://id.wikipedia.org/wiki/Fileski)

Ada keseluruhan 118 puisi yang ditulis oleh 44 penulis yang terhimpun dalam buku ini. Para penulis ini tidak hanya berasal dari Indonesia, tapi ada juga yang berasal dari negeri tetangga. Menariknya lagi, buku antologi puisi ini tidak mengacu pada satu tema saja, namun terdapat bermacam-macam tema. Jika diperumpamakan dengan permen, maka buku ini bisa disebut sebagai permen segala rasa. Selain itu, para penulis yang terlibat tidak hanya mereka yang telah lama bergelut dalam dunia tulis-menulis, namun para pemula juga turut berkontribusi dalaam buku ini.

Maka dari itu, buku ini membuktikan bahwa, semua orang bisa belajar dan berkarya. Para profesional dan pemula dapat berjalan searah, beriringan tanpa ada diskriminasi atas nama senioritas. Selain itu, buku ini juga ingin menyebarkan virus positif kepada pembaca yang juga gemar menulis tapi masih bersembunyi, untuk mulai berani menelurkan karyanya. Sedangkan pesan yang ingin disampaikan kepada penulisnya adalah agar selalu bersemangat berkarya.

Berikut beberapa penggalan puisi yang tertuang dalam antologi puisi Lorong Lengang Jalan Pulang:

” jarimu melukis gugusan mendung # sukma mentari kini terkurung

dalam remang cuaca kabung # kesiur rinduku samar bergaung”

( Narasi Hujan halaman 15, oleh Nur Ahmad Fauzi FM )

” Aku hanya debu

gagal mengelabui waktu

semenjak anak-anak senja memanja eja

hingga eja tersudut di malam begitu tua

melangsamkan rindu memupus

dan kelopak-kelopak itu gugur 

sepi serupa mula”

( Rinexit: Selamat Tinggal Rindu #45 halaman 20, oleh Jen Kelana)

” Namanya juga pemuka

Harus tebal muka ‘tuk bisa dipuja

Ingat, rakyat memuja tapi inginkan surga

Jangan kau terlena lalu jarah harta mahajana”

( Pemuka yang Ingin Dipuja halaman 89, oleh Annisa Puteri Raka )

Nah, masih malu dan takut untuk menunjukkan karyamu? Patahkan saja keraguanmu dan mulai tunjukkan karyamu.

Salam Literasi!

About Cemara Karenina

Pluviophile yang jatuh hati pada rusa tanduk merah.