Media Informasi Terkini

Sudah Kah Kita menjadi muslimah sejati?

Src image : kartun muslimah
0 26

Gambar-kartun-muslimah03.jpg

Sudah Kah Kita menjadi muslimah sejati? – Nadia Nurul Azizah, gadis yang baru saja menyelesaikan rutinitas membaca Al-Qur’an ba’da shalat subuh. Menurutnya, membaca Al-Qur’an adalah suatu kewajiban umat muslim, sama seperti shalat lima waktu.

Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan umat manusia sebagai mukjizat. Al-Quran menjadi salah satu bukti yang tak terbantahkan akan kebenaran Muhammad sebagai Rasulullah sekaligus kebenaran Islam sebagai agama Rahmatan lil’alamin.

Kemukjizatan Al-Quran terletak pada janji Allah SWT yang akan menjamin dengan dirinya sendiri memelihara dan menjaga-Nya. Sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami pula yang memiliharanya.” (QS. Al-Hijr : 9).

Nadia bersyukur, dirinya terlahir dari keluarga muslim. Abah dan Umminya adalah seorang guru yang mengajar di madrasah tak jauh dari  tempat tinggalnya. Nadia memiliki seorang kakak laki-laki yang saat ini sedang berkuliah di Kairo, Mesir.

Setelah merapikan mukenah dan sajadah yang dipakainya tadi ke lemari, Nadia mengambil handuk dan bergegas untuk mandi.

Pagi yang cerah, cahaya matahari masuk melalui sela-sela gorden kamar yang bernuansa Biru yang dipadukan dengan warna putih itu.

Gambar-kartun-muslimah03.jpg

Nadia duduk di depan cermin dan mulai merapikan seragam putih abu dan  Khimar putih yang dipakainya, lalu memakai tas punggung berwarna hitam miliknya. Nadia seorang siswi SMA swasta jurusan IPA. Di sekolah, ia dijuluki wanita yang ramah dan sholehah karena pakaiannya yang syar’i dan jika berbicara, tutur katanya lembut dan sopan.

Ia keluar dari kamar, dan berjalan ke arah ruang keluarga. Tampak kedua orang tuanya sedang berbincang di depan televisi.

Baca Juga :  Pilihlah, 8 Hobi yang Harus Kamu Tekuni Agar Bisa menghasilkan Uang

“Ummi, Abah, teteh berangkat dulu.” Ucap Nadia sembari menyalimi tangan kedua orang tuanya.

“Hati-hati di jalannya ya, teteh.”

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikumussalam.”

Nadia melangkahkan kaki keluar dari rumah. Berjalan menikmati udara pagi yang masih segar, melewati pemukiman warga yang tidak terlalu padat. Jarak antara rumah dan sekolahnya tidak terlalu jauh, ia tidak memerlukan kendaraan roda dua atau roda empat untuk pergi ke sekolah.

Ia bersyukur dengan apa yang ia miliki saat ini. Begitu banyak di luar sana orang yang tidak memiliki rumah untuk berlindung dari hujan dan teriknya matahari. Banyak di luaran sana anak seumuran dirinya yang tidak bisa bersekolah karena tidak punya biaya.

Kita harus mensyukuri apa yang Allah berikan. Diberi nikmat untuk bernapas, berkedip, berbicara pun Alhamdulillah.

Banyak manusia yang sudah mati memohon kepada Allah untuk dihidupkan kembali. Mereka hanya ingin lebih taat, lebih banyak bersujud kepada Allah. Sementara kita yang masih diberi umur, malah menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan.

Kita malah mengesampingkan urusan akhirat, berleha-leha dengan kewajiban sebagai seorang muslim dan lebih menomorsatukan urusan dunia. Naudzubillahimindzalik.

Sesampainya di gerbang sekolah, ia berjalan menuju arah kelasnya yang berada di lantai dua. Melangkahkan kaki di lorong koridor yang tidak terlalu ramai. Banyak yang menyapanya dan dibalas senyum oleh Nadia.

Di perjalanan menuju kelasnya, tentu Nadia lebih sering menudukkan pandangannya. Tentu saja menjaga pandangan dari lawan jenisnya. Ia seringkali melihat dua orang lawan jenis berbicara dengan santai, melihat lawan jenis dengan syahwat dan khalwat (berdua-duaan) tanpa memikirkan gadhul bashar. Menjaga pandangan. Kadang ia berpikir, apa mereka tidak memikirkan dosa yang akan mereka tanggung?

Baca Juga :  Apakah Seorang Blogger Bisa Menulis dan Menerbitkan Buku ?

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Isra’ ayat 32 yang berbunyi;

Dan janganlah engkau mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’:32)

Zina disebut fahsya’, karena zina perbuatan yang dapat menyebabkan terjadinya keburukan-keburukan lainnya. Naudzubillahimindzalik.

Nadia duduk di bangkunya, di sampingnya sudah ada Isna teman sebangkunya.

“Assalamu’alaikum, Isna,” Sapaku dengan senyum ramah dan nada yang ceria.

“Waalaikumussalam, Nadia. Eh… kamu tahu kan alumni yang dulunya pakaiannya syar’i banget, sering ikut kajian, masa sekarang udah gak pakai kerudung lagi. Lihat deh fotonya, pakaiannya yang sekarang ketat banget!” Isna bercerita dengan heboh sambil memperlihatkan foto seseorang yang tidak memakai kerudung.

Nadia hanya geleng-geleng kepala mendengar cerita heboh Isna. Astaghfirullahaladzim, ucapnya dalam hati. Ia berusaha menjaga lisannya agar tidak mengeluarkan perkataan yang tidak baik.

“Isna, Allah membolak-balikkan hati setiap hambanya. Ingat sabda Rasulullah? Iman itu bisa bertambah dan berkurang. Bertambah karena iman, dan berkurang karena kemaksiatan. Hidayah bisa datang kapan saja, Na. Siapa tau, besok atau lusa dia akan berubah menjadi lebih baik lagi. Kita gak akan pernah tahu.”

Isna mendengarkan ucapan Nadia dengan raut wajah yang serius. “Bagaimana kalau besok atau lusa, dia tidak berubah?” Ujar Isna.

“Astaghfirullah, kamu jangan berpikiran seperti itu, Isna. Kita harus bermuhasabah diri, harus introspeksi diri, apakah kita sudah benar di mata Allah? Coba deh kamu berpikir, Allah bisa kapan saja memberikan hidayah, jika Allah sudah menghendaki. Kita harusnya berdo’a, agar Allah terus memberikan hidayah di dalam diri kita.

Baca Juga :  3 Sifat Istri Yang Mendatangkan Rezeki

Kita gak akan pernah tahu, kapan Allah membolak-balikkan hati manusia. Muhasabah diri, ceritamu barusan termasuk ghibah, Na. Istighfar.” Nadia menasehati Isna dengan perkataan yang lembut. Ia tidak mau menyakiti hati sahabatnya itu.

Isna menundukkan kepala, apa yang dikatakan Nadia memang benar. Seharusnya ia tidak mengurusi kehidupan orang lain saat kehidupannya sendiri pun belum ter-urusi. Ia tidak seharusnya membicarakan dosa orang lain, saat dosanya sendiri pun belum tentu akan Allah ampuni. Astaghfirullahaladzim ucapnya di dalam hati.

Muhasabah diri itu penting. Apakah kita sudah lebih baik dari orang lain? Sudah merasa lebih hebat dan tak tertandingi? Merasa lebih cantik? Merasa lebih, lebih, dan lebih. Yang berlebihan itu tidak baik.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Hujurot ayat 12 yang berbunyi;

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Tetap Istiqomah di jalan Allah. Semoga Allah menanamkan hidayah di dalam diri kita. Tetap bersyukur atas apa yang Allah berikan dan apa yang kita miliki saat ini.

Wallahu a’lam bishawab.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More