Sindiran Atas Blogger Ingusan

152
SHARES
1.9k
VIEWS

Sindiran Atas Blogger Ingusan – Boom, itulah ledakan yang saya terima melalui email selepas menerbitkan artikel yang berjudul “Mas Sugeng Nabinya Umat Blogger“. Entah kenapa artikel itu bisa memunculkan respon yang cukup banyak. Ada yang mengatakan ‘keren Mas’, ada pula yang berujar ‘wah parah lu, sesat lu’ dan bla bla bla.

Menanggapi semua respon tersebut, saya hanya tertawa ringan saja. Hati saya mengatakan ‘santai saja Fi, karya seorang pembelajar filsafat bukan level mereka, so santai saja‘. Hahahaha, lucu juga sih membaca komentar-komentar orang ingusan semacam mereka. Bukan saya sok pintar, tapi memang ketika saya bacakan pada orang yang berpendidikan sama orang ingusan responnya sangat beda.

Orang ingusan hanya akan membaca judulnya saja, syukur-syukur membaca semuanya. Tapi respon yang disampaikannya seolah menggunakan analisa hermeneutis, wkwkwkw. Ah sudahlah, saya lebih senang berdiskusi dengan orang-orang yang terelajar, karena mereka akan mengiringi pemikiran saya dengan ilmu pengetahuan pula, dari pada membuang-buang waktu dengan mereka.

BACA JUGA:

Sebagai seorang blogger terkadang saya juga turut sedih ketika melihat teman-teman terlalu polos untuk ngeblog. Yang mereka tahu hanya teknis coding, seo atau bahkan hanya menulis dan spam. Mereka tak paham bagaimana sastra atau cara membaca sastra, sehingga apa yang dibacanya ditelan mentah-mentah alias secara utuh. OMG!

Jangan-jangan ketika saya menulis “Blogger Jalan Menuju Surga”, mereka akan teriak-teriak gak jelas layaknya orang gila lagi, waduh bisa gawat dunia ntar. Tapi tak apalah, setidaknya dengan apa yang mereka tunjukkan itu menandakan siapa saya dan siapa mereka.

Saya pribadi cukup bersyukur ketika dibekali dan senantiasa mengasah diri dalam hal pemikiran, sehingga apa yang saya terima atau berada di luar saya tidak tertelan mentah-mentah. Perlu adanya analisa, sikap kritis, dan radikal untuk menelan suatu bacaan.

So, wajar saja sih jika banyak orang ingusan tidak terima dengan apa yang saya tulis barusan. Di samping pendidikan saya dan mereka berbeda, mungkin beda pula kedalaman pemikiran saya dan mereka. Alhasil, yang satu bersikap kritis dan yang satu bersikap layaknya lembu ditusuk hidungnya, kesana kemari nurut saja.

Apa tujuan tulisan yang satu ini? Jujur saja, saya membuat tulisan ini hanya sebagai sindiran saja atas respon yang diberikan oleh manusia ingusan. Kenapa saya katakan ingusan? suka-suka saya, karena secara fakta kalau mereka lagi demam hidung mereka akan ingusan juga kan? Jadi tidak salah dong?

BACA JUGA:

Parah sih memang, kondisi blogger era sekarang sudah terbutakan oleh Adsense yang tak seberapa itu. Okelah jika kalian ngeblog untuk menggali dollar, tapi jangan sampai gara-gara itu kalian menunjukkan kebodohan kalian sendiri. Seperti komentar tanpa mengkiritisi, menulis tanpa tujuan pasti dan menghambur-hamburkan pendapat tanpa dasar pemikiran.

Teringat sang guru Ulil Abshar yang pernah dikritik habis-habisan oleh minoritas umat Islam di Indonesia gara-gara artikelnya yang diterbitkan di koran Kompas. Secara pemikiran apa yang disampaikan oleh Ulil biasa saja menurut saya, itu sudah biasa dijadikan diskusi oleh teman-teman filsafat. Tapi entah kenapa banyak juga umat Islam yang bersorak ria kepada Ulil.

Yah tak apalah, seorang calon pemikir dan pemikir sesungguhnya harus tetap terbuka atas kritik. Tak perlu tertutup dan berpaling, semua perlu dihadapi dengan wibawa. Jika mereka hanya bisa berkomentar melalui cuap-cuap di email, facebook atau yang lain, maka sebagai seorang blogger saya akan membalasnya melalui artikel ringan ini. Setidaknya ada yang membedakan mana orang ingusan dan mana orang yang hobi ngeblog sesungguhnya.

Terima kasih Tuhan telah menganugrahi saya bagaimana cara berpikir kritis, logis, sistematis dan komprehensif. Setidaknya saya bersyukur apa yang saya pelajari menambah pemahaman saya, khususnya hermenenutika. So, makasih Fazlur Rahman, Hasan Hanafi, Heidegger, dan lain-lain, atas teori hermeneutika yang kalian wariskan saya dan kawan-kawan bisa lebih bijak dalam memahami suatu teks.

Next Post

Comments 10

  1. Muhamad Ilyas says:

    yap betul sekali gan.
    kebanyakan blogger jaman sekarang ini, berani bicara namun tidak pernah memikirkan hal apa yang akan terjadi setelah dia bicara.
    mereka juga tak memikirkan, apa dampak negatif dari ucapan yang tanpa landasan pemikiran yang benar.

    • Mas Halfi says:

      Sikap yang harus ada ketika menghadapi suatu teks adalah sikap kritis. Dengan adanya sikap kritis kita tak akan meniru ULAR, alias memakan secara mentah-mentah

  2. Mas Sugeng says:

    Itulah kenapa gue gk mau jadi orang pinter, karena sedikit pintar kaya sampeanpun udah tergolong orang yang menyombongkan Lisan dan Tulisan.

    • Mas Halfi says:

      Terima kasih atas masukannya. 🙂

      Mau jadi orang pandai atau tidak, terserah Anda. Persoalan sombong atau angkuh, kembali pada pembaca, mau baca pakai pendekatan apa, juga terserah pembaca.

      Makasi

  3. Blogger Ingusan says:

    kalo punya kepintaran, ilmu pengetahuan tentang saya siap mempertanggungjawabkan setiap artikel ya saya publishkan seharusnya seseorang mulai berhitung akan ada jari jemari yang bersaksi tentang kemunapikan orang yang membuat artikel tanpa sepengetahuan tokoh dalam artikel, apalagi jika tanpa ijin dari tokohnya tersebut, maka orang seperi itu akan semakin terlihat benar-benar bodoh dan menjijikan seperti najis..
    Kalo mau terlihat smart atau katakan saja blogger yang pintar, cukup kamu membuktikanya dengan kualitas blogmu, saya tidak memperhitungkan tentang SEO, setidaknya isilah blogmu dengan artikel yang bermanfaat seperti tips kesehatan dll. Di lihat dari ketinggian 1000 kakipun blog ini masih terlihat labil, bagaimana jika di lihat 100000 kaki?
    Tidak ada manfaatnya. Hmmmm kayaknya keuntungan blog yang kamu miliki ini sudah lebih dari blogger ingusan.. Dan kayaknya kehidupan dunia blogger milikmu ini lebih dari pada blogger ingusan… Luar biasa sekali..

  4. Mr.Paradox says:

    Lanjutkan Terus..

    Mereka bukanlah orang yang bermaksud jahat. Mereka hanya orang yang terpenjara dalam logika sempit yang tidak bisa melihat luas nya suatu pemikiran/pemahaman yang berasal dari HATI .

    Mr.Paradox

  5. akaito says:

    kalo saran saya jangan sebut dengan ‘ingusan’
    agan menulis disana suka suka saya,
    mereka juga bilang suka suka saya,
    pasti agan tau apa yg saya maksud.

  6. Telsathunder says:

    Kalo ngomongin ilmu pengetahuan jangan sama orang-orang awam atau radikal min, jadinya ngak kuat, nangis gitu.

  7. ruan says:

    Tulisan mas Halfi tidak salah, yang salah adalah orang yang membacanya, karena tidak mengerti sastra dan bahasa.
    Peraturan majelispena:
    Pasal 1, tulisan mas Halfi benar( bahkan terlalu benar)
    Pasal 2, Jika ada yg mengkritik, baca kembali pasal satu.
    Pasal 3, Jika ada yg tidak suka dengan tulisan mas Halfi tentang mas sugeng yg dianggap nabinya blogger, temui mas halfi untuk berdebat secara langsung ( beliau ingin menunjukan betapa hebatnya dia di bidang sastra/ menyombongkan diri).

  8. filsafat itu bukan hanya sekedar pusaran kata-kata, yang seringkali menyesatkan logika.

    Ingat..Filsafat bukan sekedar pusaran kata-kata yang seringkali menyesatkan logika.
    Dari tulisan2 Nak Salfi, Saya melihat ada gejala-gejala PENGGANDAAN KESESATAN LOGIKA nak..

    Nak salfi ini bicara filsafat tapi secara langsung juga menelanjangi ketidak pahamannya tentang filsafat.
    Secara langsung menunjukkan kedangkalan pemahamannya tentang filsafat.

    Ingat..filsafat bukan hanya sekedar pusaran kata-kata, kalau tidak mampu berada dipusarannya yang mampu menggerus logika, mending ngblog yang lurus-lurus aja..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *