Media Informasi Terkini

Sindiran Atas Blogger Ingusan

12 276

Sindiran Atas Blogger Ingusan – Boom, itulah ledakan yang saya terima melalui email selepas menerbitkan artikel yang berjudul “Mas Sugeng Nabinya Umat Blogger“. Entah kenapa artikel itu bisa memunculkan respon yang cukup banyak. Ada yang mengatakan ‘keren Mas’, ada pula yang berujar ‘wah parah lu, sesat lu’ dan bla bla bla.

Menanggapi semua respon tersebut, saya hanya tertawa ringan saja. Hati saya mengatakan ‘santai saja Fi, karya seorang pembelajar filsafat bukan level mereka, so santai saja‘. Hahahaha, lucu juga sih membaca komentar-komentar orang ingusan semacam mereka. Bukan saya sok pintar, tapi memang ketika saya bacakan pada orang yang berpendidikan sama orang ingusan responnya sangat beda.

Orang ingusan hanya akan membaca judulnya saja, syukur-syukur membaca semuanya. Tapi respon yang disampaikannya seolah menggunakan analisa hermeneutis, wkwkwkw. Ah sudahlah, saya lebih senang berdiskusi dengan orang-orang yang terelajar, karena mereka akan mengiringi pemikiran saya dengan ilmu pengetahuan pula, dari pada membuang-buang waktu dengan mereka.

BACA JUGA:

Baca Juga :  5 Pilihan Solitaire Games yang Seru untuk Dimainkan saat Luang

Sebagai seorang blogger terkadang saya juga turut sedih ketika melihat teman-teman terlalu polos untuk ngeblog. Yang mereka tahu hanya teknis coding, seo atau bahkan hanya menulis dan spam. Mereka tak paham bagaimana sastra atau cara membaca sastra, sehingga apa yang dibacanya ditelan mentah-mentah alias secara utuh. OMG!

Jangan-jangan ketika saya menulis “Blogger Jalan Menuju Surga”, mereka akan teriak-teriak gak jelas layaknya orang gila lagi, waduh bisa gawat dunia ntar. Tapi tak apalah, setidaknya dengan apa yang mereka tunjukkan itu menandakan siapa saya dan siapa mereka.

Saya pribadi cukup bersyukur ketika dibekali dan senantiasa mengasah diri dalam hal pemikiran, sehingga apa yang saya terima atau berada di luar saya tidak tertelan mentah-mentah. Perlu adanya analisa, sikap kritis, dan radikal untuk menelan suatu bacaan.

So, wajar saja sih jika banyak orang ingusan tidak terima dengan apa yang saya tulis barusan. Di samping pendidikan saya dan mereka berbeda, mungkin beda pula kedalaman pemikiran saya dan mereka. Alhasil, yang satu bersikap kritis dan yang satu bersikap layaknya lembu ditusuk hidungnya, kesana kemari nurut saja.

Baca Juga :  Menyusuri Nusantara Bareng Teknologi

Apa tujuan tulisan yang satu ini? Jujur saja, saya membuat tulisan ini hanya sebagai sindiran saja atas respon yang diberikan oleh manusia ingusan. Kenapa saya katakan ingusan? suka-suka saya, karena secara fakta kalau mereka lagi demam hidung mereka akan ingusan juga kan? Jadi tidak salah dong?

BACA JUGA:

Parah sih memang, kondisi blogger era sekarang sudah terbutakan oleh Adsense yang tak seberapa itu. Okelah jika kalian ngeblog untuk menggali dollar, tapi jangan sampai gara-gara itu kalian menunjukkan kebodohan kalian sendiri. Seperti komentar tanpa mengkiritisi, menulis tanpa tujuan pasti dan menghambur-hamburkan pendapat tanpa dasar pemikiran.

Teringat sang guru Ulil Abshar yang pernah dikritik habis-habisan oleh minoritas umat Islam di Indonesia gara-gara artikelnya yang diterbitkan di koran Kompas. Secara pemikiran apa yang disampaikan oleh Ulil biasa saja menurut saya, itu sudah biasa dijadikan diskusi oleh teman-teman filsafat. Tapi entah kenapa banyak juga umat Islam yang bersorak ria kepada Ulil.

Baca Juga :  #ceritaramadanku 16

Yah tak apalah, seorang calon pemikir dan pemikir sesungguhnya harus tetap terbuka atas kritik. Tak perlu tertutup dan berpaling, semua perlu dihadapi dengan wibawa. Jika mereka hanya bisa berkomentar melalui cuap-cuap di email, facebook atau yang lain, maka sebagai seorang blogger saya akan membalasnya melalui artikel ringan ini. Setidaknya ada yang membedakan mana orang ingusan dan mana orang yang hobi ngeblog sesungguhnya.

Terima kasih Tuhan telah menganugrahi saya bagaimana cara berpikir kritis, logis, sistematis dan komprehensif. Setidaknya saya bersyukur apa yang saya pelajari menambah pemahaman saya, khususnya hermenenutika. So, makasih Fazlur Rahman, Hasan Hanafi, Heidegger, dan lain-lain, atas teori hermeneutika yang kalian wariskan saya dan kawan-kawan bisa lebih bijak dalam memahami suatu teks.

Show Comments (12)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More