Home | Artikel | Semakin Banyak Semakin Berbobot

Semakin Banyak Semakin Berbobot

TINULIS.ID – Menjadi penulis tak ubahnya seperti menjadi seorang mahasiswa. Ia perlu belajar, evaluasi dan mencari refrensi. Seorang penulis yang baru berproses wajib hukumnya untuk terus berlatih dan berlatih. Karena salah satu kunci menjadi penulis profesional ialah latihan dan latihan. Bobot suatu karya tulis juga bisa ditentukan oleh jam terbang penulis itu sendiri.

Selain latihan kewajiban penulis lainnya adalah mencari refrensi hebat untuk dijadikan pola pacu karya tulisnya. Ini berkaca pada mahasiswa, jika seorang mahasiswa ingin hasil karya tulisnya di anggap serius dan validitasnya tinggi, maka ia harus merujuk pada refrensi primer. Bukan lagi refrensi sekunder.

Berbicara soal refrensi, saya kira itu menjadi hal wajib seorang penulis pemula seperti saya. Refrensi akan membantu kita dalam menemukan karakter karya tulis kita nanti. Berangkat dari refrensi pula kita akan mendapatkan tolak ukur tersendiri, bahwa apakah tulisan kita sudah berbobot serta berkarakter atau belum?

Saya sendiri sejak awal memutuskan untuk menjadi seorang blogger, selalu berusaha mencari refrensi untuk belajar menulis. Perlu saya katakan pula, bahwa refrensi yang saya maksud bukan merujuk pada buku, melainkan tokoh idola penulis kita.

Nah, dengan selalu berkaca pada tokoh yang kita anggap tulisannya WoW, maka dengan sendirinya kita akan mengikuti karakter tokoh tersebut. Selanjutnya barulah kita tentukan karakter kita sendiri.

Misalnya saja, dari dulu sampai sekarang saya sangat mengidolakan Ulil Abshar Abdalla. Menantu Gus Mus yang satu ini menurut saya tulisannya sangat berbobot, serat akan makna, ide dan gagasan yang disampaikan juga sangat mengena. Karater tulisannya yang sangat santai seperti bahasa lisan, sampai-sampai Indonesia pernah dibuatnya gempar gara-gara artikel beliau di koran Kompas.

Sedikit saya bercerita, waktu itu Ulil Abshar menulis tentang pemikiran Islam di koran kompas. Judulnya “Menyegarkan Pemikiran Islam Kembali“, dari hasil tulisan Ulil tersebut, ternyata banyak sekali respon dari kalangan alim ulama’ se Indonesia. Gempar sudah umat Islam waktu itu.

Di sana sini tak sedikit umat Islam yang membicarakan tentang apa yang telah dituliskan Ulil. Bukan hanya itu, Majelis Ulama Jawa Barat juga mengeluarkan fatwa mati pada Ulil Abshar, karena dianggapnya Ulil telah berusaha memporakporandakan syariat Islam.

Lagi lagi bukan fatwa mati saja yang di terima oleh menantu Gus Mus ini, tetapi beliau juga mendapatkan hadiah surat yang berisikan BOM. Sehingga pada waktu itu sempat terjadi luka luka pada beberapa orang di daerah komunitas Utan Kayu. Sungguh menjadi drama besar waktu itu, tulisan yang dianggapnya biasa oleh Ulil ternyata membawa pengaruh yang tak terkira.

Ratusan bahkan ribuan hujatan di terima Ulil, puluhan surat kabar sesak dengan ungkapan-ungkapan ketidaksetujuan pada apa yang telah dituliskan oleh Ulil. Tak hanya di media cetak, media visual televisi juga banyak yang mengkaji ulang atas apa yang di gagas oleh Ulil Abshar Abdalla.

Benar benar luar biasa bagi saya, sebuah karya tulis mampu membuat Indonesia gaduh dan bising akan respon respon terhadap pemikiran Ulil Abshar. Bukan maksud saya membawa-bawa nama Ulil di artikel ini, namun saya ingin mengatakan bahwa seorang penulis haruslah memiliki refrensi tokoh tersendiri.

Agar apa yang dituliskannya memiliki tolak ukur karakter dan bobot. Nah, kebetulan dari dulu sampai sekarang saya benar benar mengidolakan Ulil Abshar sebagai refrensi menulis, karenanya saya menceritakan hal ini.

Jangan bertanya kenapa saya mengidolakan Ulil dan seberapa berkualitas tulisan Uil Abshar, silahkan anda baca sendiri karya-karyanya. Kembali pada persoapan refrensi tokoh, semakin kita memiliki banyak refrensi, maka akan semakin profesional kita.

Sebutlah saya misalnya, selain Ulil Abshar, saya juga menjadikan Kang Jalal (Sebutan akrab Jalaludin Rahmat), Novriantoni Kahar dan Akhmad Sahl sebagai refrensi tulisan saya.

Berangkat dari banyak refrensi, lama kelamaan kita akan terpacu meniru gaya bahasa dan pola penyampaian refrensi tokoh kita. Yang saya suka dari kang Jalal adalah pola penulisannya santai dan gaya bahasa yang dipakainya begitu renyah.

Sedang untuk Novriantoni Kahar saya suka karena beliau hobi menggunakan gaya bahasa metafora dan hyper bola, karenanya jika saya membaca tulisannya imajinasi kita juga ikut berperan. Untuk Akhmad Sahl sendiri beliau selalu fokus pada subtansi gagasan yang ia bawa, seolah-olah tak ada satu nilai yang tertinggal.

Ingat, suatu karya tulis yang dihasilkan oleh mahasiswa jika tak memiliki sumber refrensi sama sekali di dalamnya, maka perlu diragukan. Suatu karya tulis yang berkualitas haruslah ada refrensi di dalamya, jika tidak maka namanya adalah spekulatif asal-asalan.

Berangkat dari sini pula sudah seharusnya penulis pemula atau blogger pemula memiliki refrensi tokoh penulis yang diidolakan, agar setiap apa yang dia tulis memiliki tolak ukur bobot dan karakter tulisan.

Tapi sayang dan sayang, tak sedikit dari blogger yang mengabaikan hal itu, sudah tak terhitung jumlahnya seorang blogger yang hanya mementingkan kemasan di banding isi atau kualitas konten. Judulnya saja “GEMPAR!!!” atau “HEBOH!!” namun isinya tak ada nilai sama sekali.

Perbuatan semacam ini seharusnya dicukupi, sebab ada unsur egoisme di dalamnya, yakni ia tak menghargai perasaan pembaca, namun yang ia pentingkan ialah bagaimana agar pengunjung blognya bisa banyak.

Saya sendiri tak mengatakan orang yang selalu juara satu kontes SEO tulisannya berbobot, saya juga tak mengatakan orang yang tak pernah bersentuhan dengan SEO tulisannya sampah. Tapi bagi saya pribadi, yang disebut seorang blogger adalah mereka yang mampu menyampaikan ide dan gagasannya pada pembaca secara baik, bukan yang blognya kebanjiran pengunjung.

Memang perlu diakui juga bahwa motivasi yang kita miliki berbeda-beda. Ada yang berangkat untuk memburu dollar, ada yang ingin menjadi mastah SEO, ada pula yang ingin menjadi penulis. Dan artikel ini saya peruntukkan buat mereka yang ingin jadi penulis profesional.

Di saat masih berproses, saya ulangi lagi wajib hukumnya mencari refrensi tokoh penulis, agar hasil karya kita ada tolak ukurnya. Pesan saya juga, jangan iri dengan mereka yang memiliki banyak pengunjung tapi artikelnya tak ada nilai atau gagasan sedikit pun. Bagi saya pribadi seorang penulis profesional adalah mereka yang berhasil mentransfer ide atau gagasannya melalui hasil karya tulisnya.

Cukup sudah rasanya apa yang perlu saya sampaikan. Jika ada kata kata yang kurang mengenakkan, biarlah sudah karena memang itu saya sengaja. Jika ada yang tidak setuju dengan artikel ini, silahkan bantah sekeras-kerasnya dengan artikel kalian, bukan hanya sekedar omongan saja.

Pesan saya yang terakhir, untuk menciptakan hasil karya tulis yang berbobot dan sesak akan gagasan, maka perbanyaklah refrensi. Dengan refrensi tokoh, kalian akan memiliki tolak ukur tersendiri, kalian akan belajar bagaimana hasil karya tulis kita berkarakter, serta kita akan menemukan karakter tulisan kita sendiri.

Cukup dan cukup sudah kita sesaki google dengan jutaan tutorial yang di ulang ulang, cukup sudah kita menulis hal hal yang tak perlu di tulis. Mulailah dari sekarang menulis untuk mengabadikan, menulis untuk membangun peradaban, menulis untuk kemajuan, menulis untuk pembaca bukan untuk diri sendiri. Jika yang kalian tulis adalah “Memaknai Kemerdekaan Seperti Nasi Pecel“, maka dari mana kemajuan peradaban itu akan di mulai?

Saatnya kita Go Blogger P.hD

About Kak Amel

2 comments

  1. Jumlah minimal kata/paragraf agar memenuhi standart SEO berapa ya mas?

    • Dalam MS word 3-5. Dalam satu paragraf pastikan hanya ada satu ide utama. Google sudah semakin canggih untuk menindak copy paste. Kok mas ya :),

      Salam kenal dari Amel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *