Home | Artikel | Saatnya Go Blogger

Saatnya Go Blogger

TINULIS.ID – Beberapa bulan yang lalu kita digelisahan dengan banyaknya berita mengenai komunisme dan tragedi 65. Ada yang pro ada juga yang kontrak. Tak sedikit pula dari kita yang menuntut agar Indonesia meminta maaf atas tragedi 65. Kesemua ini adalah ekspresi yang hadir dari gonjang ganjingnya informasi di dunia maya.

Sudah barang tentu bagi mereka yang pro akan memaparkan nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan atas tragedi 65. Tapi bagi yang kontra, mereka akan melakukan hal sebaliknya. Dan jalan utama yang pasti mereka lakukan untuk memperoleh suara adalah melalui dunia maya.

Ulasan di atas adalah sedikit peran media mengenai tragedi 65. Dan perlu saya ingatkan ulang bahwa di balik informasi dua warna mengenai tragedi 65 adalah para blogger. Lagi-lagi blogger adalah pengendali kesemua ini. Pada dasarnya memang peran media dalam mengelola dan menebar informasi cukup bisa dihandalkan.

Bahkan bisa dikatakan, cukup dengan beberapa klik saja kita sudah bisa mengakses ribuan informasi secara cepat dan instan. Saya ulangi lagi, siapa kontributor utama di balik kebisingan informasi di media online jika bukan blogger?

Sebenarnya saya ingin menekankan pada semuanya agar lebih melek blogger. Mengapa demikian? Sudah tak perlu alasan panjang lebar mengenai kenapa kita harus melek blogger. Jika saya boleh berasumsi, dari sekian pengalaman saya di dunia blogger, ternyata masih banyak atau bahkan sangat banyak blogger-blogger hitam yang terus mengendalikan informasi di internet.

Dan parahnya lagi, tak sedikit dari kita yang terkena dampaknya dari kejahatan para blogger hitam.

Tidak percaya? Berikut saya akan memaparkan mengapa kita harus melek blogger atau mengadakan revolusi besar-besar atas kendali blogger di Indonesia.

Pertama, jika kita mau menjelajahi di dunia maya, situs-situs yang seharusnya tidak layak atau dalam kata lain mampu merusak moral bangsa ternyata masih berserakan dimana mana. Terlebih pola yang mereka lakukan adalah metode baris. Metode baris adalah satu situs saling berkaitan dengan situs lain, dan parahnya situs yang mengaplikasikan metode ini adalah situs-situs porno.

Pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab bilamana anak-anak kita yang usianya masih di bawah umur namun mereka sudah mengkonsumsi itu semua? Apakah kita akan menjauhkan mereka dari jangkauan internet? Atau kita mengawasi secara 24 jam? Efektifkah cara itu?

Kedua, kembali mengenai tragedi 65. Belakangan ini hampir dari kita semua merasa bising atas informasi yang berserakan di dunia maya. Baik itu melalui portal berita yang entah siapa pemiliknya atau melalui media sosial pribadi kita. Tidak cukup sampai kebisingan yang mereka buat, banyak dari kita yang saling bermusuhan hanya karena terprovokasi oleh informasi yang tak tahu validitasnya.

Parahnya lagi adalah banyak dari kita yang mudah sekali membagikan berita yang mana kita sendiri belum tahu kebenarannya. Dari sini yang dikhawatirkan adalah, ya kalau berita yang kita bagikan itu benar, tapi jika berita itu ternyata berisi fitnah atau penebar aib seseorang, lantas siapa yang akan bertanggung jawab?

Pertanyaannya, apakah kita akan berdiam diri atas kericuhan yang di buat oleh para blogger hitam yang tak bertanggung jawab itu? Apakah kita juga akan membiarkan internet dipenuhi oleh informasi menyesatkan seperti itu? Saya hanya mengatakan, jika salah satu dari kita adalah pengendali google, maka silahkan berdiam diri.

Ketiga, selain situs-situs negatif yang kian berserakan dan informasi racun yang tak terkendali kontrolnya, satu hal penting yang mengkhawatirkan adalah terancamnya kualitas pendidikan kita. Dalam tulisan saya yang berjudul Prof. Dr. Blogger, P.hD’ telah sedikit saya paparkan tentang menyebarnya virus ‘copy paste’ di kalangan mahasiswa. Dari bahasan yang ketiga ini saya akan mengulasnya lebih lanjut.

Banyak alasan mengapa saya mengatakan bahwa kualitas pendidikan kita terancam, salah satunya adalah terlenanya para pembelajar kita dengan keinstanan dunia maya dan mirisnya validitas informasi yang ada di internet. Hampir semua pengajar menggelisahkan atas fenomena ini, terutama para dosen.

Di mana mahasiswa yang seharusnya melahab banyak buku yang sudah dihimbaukan oleh dosen, namun mereka mendurhakai itu semua dengan kebiasaan ‘copy paste’. Ini merupakan semacam tamparan bagi kita atas gambaran pendidikan di Indonesia.

Memang jika mau disadari, keberadaan internet tidak bisa dihindarkan dari jangkauan pembelajar kita, dan memang tak seharusnya kita melakukan itu. Namun atas dasar fenomena itu, kegelisahan yang terdalam adalah bukan persoalan kemandirian pembelajar kita dalam menempuh pendidikannya, namun siapa yang bertanggung jawab atas kebenaran informasi yang didapatkannya?

Dan satu hal yang mengkhawatirkan adalah hilangnya nilai menghargai atas sebuah proses kehidupan. Jika dari kita sudah menerapkan ideologi instan, lantas bagaimana nasib pendidikan kita selanjutnya?

Pertanyaannya, ketika semua ini sudah memerangi kita, apakah kita akan diam saja sambil menjadi saksi hancurnya harapan masa depan negeri ini? Siapa yang tahu apakah anak kita steril dari informasi-informasi yang jauh dari nilai layak ? Siapa yang berani bertanggung jawab atas kebisingan dan perseteruan yang diakibatkan oleh informasi-informasi yang selalu menampilkan dua warna?

Dan apakah kita akan membiarkan para pembelajar dan generasi penerus bangsa mengkonsumsi informasi-informasi yang tak jelas validitasnya? Bukankah pendidikan kita mengharapkan calon-calon generasi bangsa yang kompeten dibidangnya? Latas haruskah kita hanya diam sebagai penikmat tanpa ada dobrakan besar atas semua ini?

Kawan ku semua, sudah saatnya kita melek blogger. Sebab negeri ini hampir seluruhnya mengkonsumsi internet. Ketika seseorang di ajak untuk piknik kesuatu tempat, yang ditanyakan bukan lagi ‘ bagaimana suasana di sana atau bagaimana pemandangan di sana? ‘melainkan’ adakah sinyal internet di sana?’ ini adalah gambaran kecil tentang kebaradaan internet di hati rakyat Indonesia.

Disamping itu kita juga sudah faham dampak negatif yang akan terjadi manakala kita membiarkan internet dipenuhi oleh manusia-manusia yang tak bertanggung jawab. Wajib kita sadari pula, google adalah budak dari segala budak, artinya bahwa apa pun yang kita inginkan akan dipenuhi oleh google. Sekali lagi saya ingatkan, siapa di balik kemahatahuan google jika bukan para blogger.

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah mari kita penuhi dunia maya dengan hal-hal positif. Mari kita menjadi pengendali informasi yang akan diberikan google. Jangan memberikan kesempatan pada google untuk menyajikan hal-hal negatif yang tak seharusnya kita konsimsi. Salah satu caranya adalah kita berkontribusi menjadi blogger, bukan malah memblokir situs-situs hitam itu. Sebab mereka memiliki seribu cara untuk mengatasi itu semua, sekali lagi jalan yang ampuh untuk melawah itu semua adalah dengan mengisi kekosongan yang ada di blogger.

Kita faham, setiap dari kita memiliki latar belakang yang berbeda. Karenanya dengan perbedaan ini diharapkan kita mampu melumpuhkan keberadaan blogger hitam tersebut. Bilamana di antara kita sebagai seorang pengajar, maka penuhilah informasi di internet dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan jelas validitasnya.

Bilamana di antara kita memiliki kemampuan lebih dalam bidang tertentu, maka penuhilah informasi di internet terkait dengan bidang yang dimiliki. Niscaya jika sudah demikian, informasi-informasi hitam yang ada di internet akan terlumpuhkan keberadaannya oleh kita semua.

Satu hal yang akan saya tawarkan kembali, yakni satu pengajar satu blogger. Insya Allah dengan revolusi blogger secara besar-besaran oleh orang orang yang menginginkan kemajuan, perdamaian dan kemakmuran, semua kegelisahan atas fenomena yang terjadi di dunia maya maupun dunia nyata akan mampu teratasi. Saya juga berpesan pada semuanya, silahkan anda duduk diam dan menikmati penghancuran secara besar besaran ini selagi anda adalah pengendali penuh mesin Google.

Saatnya Go-Blogger

About Kak Amel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *