Artikel Gaya Hidup

Peran Teknologi Bagi Kemajuan Indonesia

Peran Teknologi Bagi Kemajuan Indonesia – 2016 adalah era dimana banyak sekali hal-hal dalam kehidupan kita yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi. Tak jarang juga di antara kita yang memang sudah menempatkan teknologi informasi dan komunikasi di taraf kebutuhan hidup.

Tidak bisa dinafikan memang, semenjak kemajuan teknologi yang kian pesat, serta semakin canggihnya media komunikasi, kini teknologi bukan lagi menjadi kebutuhan sekunder, melainkan sudah menjadi kebutuhan primer.

Mari kita tengok sejenak dunia perojekkan di Jakarta. Berkat kelahiran Go-Jek, kini smartphone sudah menjadi pegangan wajib setiap driver. Padahal dulunya sangat jarang ditemukan ojek yang sibuk dengan smartphonenya. Alih-alih apa itu aplikasi Android, Facebook saja mereka tak kenal.

Berangkat dari teknologi yang di balut dengan ide kreatif, kini jenjang kemakmuran ojek di Jakarta dan sekitarnya mulai terasa. Yang biasanya hanya satu dua penumpang perhari, kini mereka bisa sampai 10 sampai 20 penumpang perhari.

Jika harus ditelisik secara mendalam, sesungguhnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berpotensi mengantarkan Indonesia ke gerbang pintu kemajuan. Bukan hanya itu, dengan memanfaatkan teknologi pula, Indonesia juga akan lebih mudah dalam membangun pendidikan yang berkualitas.

Karenanya, agar ini semua tidak berhenti pada gagasan tanpa dasar, mari kita diskusikan bersama perihal bagaimana teknologi informasi dan komunikasi mampu mengantarkan Indonesia pada kemajuan dan kecerdasan.

Kemajuan, kecerdasan, kecepatan, serta kemudahan, akan mudah diperoleh Indonesia, manakala kita mampu memaknai teknologi informasi dan komunikasi secara baik dan benar. Artinya adalah, besar kecilnya manfaat yang akan Indonesia terima, semua bergantung pada bagaimana kita memahami teknologi.

Sebab pada dasarnya teknologi bukan hal yang bisa dipahami dalam satu sudut pandang saja, melainkan harus dari banyak sisi. Ibarat kata, memahami teknologi bukan seperti menjawab pertanyaan 10 + 10 hasilnya berapa, melainkan 20 = berapa tambah berapa. Bisa 19 + 1, atau 20 + 0, semuanya benar dan tidak ada yang salah.

Tak ubahnya dengan teknologi, ia bisa dipahami dari sudut mana saja, atau bahkan tak terbatas. Teknologi bisa dipahami sebagai konteks negatif, bisa pula dipahami sebagai konteks yang positif. Dan keduanya memiliki konsekwensi masing-masing

Oleh sebab itu, setidaknya kita harus menanamkan pemahaman yang baik dan benar pada teknologi, agar cara dan sudut pandang kita bisa positif. Jika sudah demikian, bukan hal yang mustahil bila teknologi juga akan memberikan dampak yang positif pula pada kita.

BACA JUGA:

Sekurang-kurangnya ada empat perspektif yang harus kita tanamkan agar teknologi informasi dan komunikasi mampu memberikan efek positif pada kita. Sehingga kita bisa mengantarkan Indonesia ke gerbang kemajuan dan kecerdasan.

Pertama, Memahami Teknologi Dalam Perspektif Agama

Kita telah sepakat bahwa Indonesia adalah negara bagi orang yang beragama. Sila pertama mengatakan Ketuhanan Yang Maha Esa. Karenanya Agama adalah poin penting yang harus kita perhatikan dalam bernegara, agar kehidupan bernegara kita bisa lebih baik dan tentram.

Salah satu hal yang bisa mengantarkan kita sebagai penganut Agama yang baik adalah, dengan belajar dan mendalaminya. Dengan belajar serta memahaminya, berarti kita telah membuktikan bahwa kita adalah warga negara yang baik. Sebab kita meyakini semua Agama pasti mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang baik pula.

Dengan adanya teknologi yang semakin maju, kini masyarakat Indonesia lebih dimudahkan dalam belajar dan memahami Agamanya. Yang mulanya nasehat-nasehat hanya bisa kita dapatkan melalui tradisi oral, kini juga bisa kita peroleh melalui tradisi membaca. Semua ini adalah berkat teknologi informasi dan komunikasi.

 

Kehadiran teknologi dirasa sangat memudahkan masyarakat Indonesia menjadi warga negara yang baik. Pasalnya, belajar dan memahami Agama tidak serepot tempo dulu. Kini kita bisa memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi untuk terus belajar, belajar dan belajar.

Cukup dengan mengakses, atau berkomunikasi via pesan instan, apa yang menjadi kegelisahan kita dalam beragama bisa terpecahkan. Berangkat dari sini, para pemuka Agama pun juga lebih mudah dalam mensiarkan nilai-nilai kebaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Hanya dengan membuat konten berupa tulisan atau video, para pemuka Agama sudah bisa menebarkan benih-benih nasehat baik ke penjuru Nusantara. Yang pada akhirnya, kita yang rumahnya jauh dari tempat ibadah tetap bisa memperoleh siraman rohani kapan pun yang kita mau.

Bisa kita simpulkan bahwa teknologi adalah sarana terbaik bagi kita untuk menjadi warga negara Indonesia yang baik. Yakni dengan mengamalkan nilai-nilai Agama yang telah kita yakini, serta tetap menjaga kerukunan dan kesatuan di tengah perbedaan.

Kedua, Memahami Teknologi Dalam Perspektif Pendidikan

Sebagai negara yang tak pernah lelah mencetak generasi bangsa yang berkualitas budi dan pekerti, Indonesia telah menjalankan beragam cara guna mensukseskan pendidikannya. Mulai dari Gerakan Indonesia Mengajar, sampai pada Pemuda Hebat Indonesia.

Gerakan pendidikan semacam ini adalah bentuk upaya mencerdaskan bangsa yang patut kita apresiasi dan kita kembangkan. Karena dengan adanya inovasi-inovasi yang jitu, pendidikan di Indonesia akan menjadi lebih baik.

BACA JUGA:

Meski sampai saat ini jumlah anak putus sekolah masih cukup banyak, paling tidak statistik pendidikan Indonesia semakin membaik dan berkualitas. Pada dasarnya memang Indonesia sangat membutuhkan trobosan-trobosan kreatif, agar pendidikan di Indonesia bisa tepat sasaran dan menyeluruh.

 

Secara fenomena, pendidikan di Jakarta dengan pendidikan di Papua memang sangat beda. Baik dari segi Sumber Daya Manusia, fasilitas, lingkungan, serta waktu pengajaran. Di Jakarta karena fasilitas ataupun SDM sudah cukup memadahi, maka wajar saja jika disana banyak lahir murid-murid yang berprestasi.

Berbeda dengan di daerah pinggiran, dengan fasilitas, Sumber Daya Manusia serta kondisi lingkungan kurang mendukung untuk kegiatan belajar, baik kurangnya sarana prasarana atau akses menuju sekolah. Sehingga murid berprestasi yang dilahirkan tidak sebanyak di Jakarta.

Berangkat dari sini, tugas kita adalah memikirkan bagaimana generasi bangsa kita tetap bisa belajar meski jauh dari Ibu Kota, dan tetap bisa menikmati materi pelajaran yang sama meski tinggalnya di pelosok desa.

Ya, benar sekali. Membaca adalah pintu gerbang ilmu pengetahuan. Dengan membaca bukan sesuatu yang mustahil seseorang akan menjadi manusia yang jenius dan ahli dalam suatu bidang. Yang pasti ia harus tetap membaca, membaca dan membaca. Semakin banyak yang ia baca, dan semakin fokus ia pada suatu bacaan, maka kesempatan menjadi manusia berpendidikan sangatlah dekat.

Jadi kata kunci yang harus dipecahkan adalah, bagaimana seluruh anak bangsa mampu memperoleh bahan bacaan yang sama-sama berkualitas, dan serta dapat menikmatinya tanpa harus terkendala jarak dan waktu.

Jawabannya adalah teknologi. Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, apa yang dibutuhkan anak bangsa untuk belajar dan mengajar, bisa kita sajikan dengan mudah dan cepat. Tak perlu gelisah perihal jarak dan waktu, cukup dengan beberapa klik saja seluruh anak bangsa sudah bisa belajar dengan baik.

Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sarana dan prasarana belajar adalah sebuah keharusan. Baik itu di daerah yang basisnya kelas atas, ataupun daerah yang basisnya kelas menengah dan ke bawah.

Karena hanya dengan memanfaatkan teknologi secara baik dan benar, proses belajar mengajar pun juga bisa lebih baik dan efisien. Yang mulanya harus menunggu lama datangnya bahan ajar, dengan teknologi sang pengajar bisa langsung mengajar cukup dengan beberapa klik saja.

Bagi gerakan pendidikan di Indonesia seperti Indonesia Mengajar dan semisalnya, juga akan sangat terbantu bilamana  memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara maksimal. Apa yang seharusnya lama bisa dipercepat, dan apa yang seharusnya jauh bisa diperdekat. Semua ini bisa kita dapat dari teknologi.

Selain mempermudah proses belajar mengajar, teknologi juga sangat membantu dalam pembentukan karakter anak bangsa. Sang pengajar tidak perlu repot-repot memeragakan bagaimana menjadi anak yang baik pada orangtua, cukup dengan video motivasi yang kita peroleh di internet, pengajar bisa memberikan contoh bakti pada orangtua itu bagaimana.

Anak didik kita yang masih ingin belajar dan membaca, juga tidak perlu kerepotan mendatangi rumah gurunya yang cukup jauh itu. Ia cukup mengakses pengetahuan apa yang ia inginkan di internet, maka ia pun bisa belajar dengan baik.

Kata kunci yang bisa kita tawarkan adalah, bagaimana pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia bisa merata. Karena dengan pemerataan inilah, kecanggihan, kecepatan dan kemudahan bisa dirasakan oleh seluruh genersi bangsa kita dalam belajar dan menempuh pendidikan.

Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan, teknologi akan sangat bermanfaat bilamana kita menggunakannya secara baik dan benar. Jika kedua poin itu sudah berhasil kita genggam, bukan sesuatu yang mustahil seluruh bangsa Indonesia bisa tercerdaskan oleh teknologi.

Ketiga, Memahami Teknologi Dalam Perspektif Peradaban

Berbicara soal peradaban akan sangat menarik jika kita belajar dari umat terdahulu. Sampai saat ini hampir seluruh manusia di dunia sepakat bahwa peradaban di dunia semakin membaik berkat kiprah orang terdahulu. Ibarat kata, orang terdahulu telah membangunkan pondasi dan desainnya, dan sekarang adalah masa melanjutkan pembangunan itu.

BACA JUGA:

Sebutlah dua filsuf kondang Yunani, yakni Plato dan Aristoteles. Kedua nama ini sudah dikenal seluruh manusia sejagad. Karena berkat keduanya peradaban dunia saat ini bisa kita rasakan. Lantas apa yang dilakukan oleh Plato dan Aristoteles sehingga membawa pengaruh besar atas peradaban dunia?

 

Lagi-lagi jawabannya adalah menulis. Sejenak kita tinggalkan keduanya dan berkaca pada ilmuan Islam tempo dulu. Sebut juga namanya Al Kindi, Ibnu Sina, Al Ghazali ataupun Ibnu Rusyd. Kesemua itu juga sangat memberikan pengaruh besar atas kejayaan Barat saat ini, baik berupa ilmu pengetahuan atau kemajuan teknologi.

Jika demikian, lalu apa yang dilakukan oleh para Ulama’ sehingga mereka mampu memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan Barat? Lagi-lagi jawabannya adalah menulis. Dengan kitabnya Asy Syifa’ Ibnu Sina memberikan sumbangsih besar terhadap dunia kedokteran.

Dengan kiprahnya menerjemahkan banyak buku-buku Yunani, Al Kindi mengantarkan Barat menuju kemajuan yang sangat luar biasa. Tak ubahnya dengan Al Ghazali dan Ibnu Rusyd, keduanya adalah tokoh penting dibalik suksesnya barat saat ini. Lagi-lagi semua itu karena mereka mau menulis.

Jadi menulis adalah kata kunci besar untuk memajukan suatu peradaban. Dengan menulis maka ada yang dibaca, tanpa menulis lantas apa yang akan dibaca. Sebab membaca dan menulis adalah dua instrumen kehidupan menuju peradaban yang lebik baik.

Bila kita tarik ke konteks digital, maka konsekwensi logisnya adalah, kita harus menulis buku lebih banyak dari pada para pendekar pena itu. Kenapa demikian? Jika Plato, Aristoteles, Al Kindi, Ibnu Sina dan seterusnya mampu melahirkan puluhan karya hebat tanpa bantuan teknologi, maka kita harus lebih bisa dan lebih banyak melahirkan suatu karya, karena kita dibantu oleh teknologi.

Dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi, ruang berkarya kita akan jauh lebih luas. Selain lebih ringan, kita juga lebih mudah dalam mencari sumber bacaan untuk menulis suatu karya. Lantas, alasan apalagi yang harus kita gunakan agar kita tidak berkarya?

Tak ubahnya dengan Plato dan Aristoteles, berbekal pemikiran yang dahsyat dan sebatang pena, ia mampu mengantarkan dunia ke pintu peradaban yang lebih maju. Maka kita pun juga harus demikian, berbekal ide yang dahsyat pula, ditambah lagi dengan kemampuan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin maju, maka kita juga harus berhasil mengantarkan Indonesia ke gerbang kejayaan.

Sebenarnya tugas kita saat ini hanya satu, yakni mencontoh jejak yang telah terbukti. Jika bukan menulis, lantas apa yang dibaca? Jika bukan karena menulis, lantas bagaimana nasib pendidikan anak bangsa yang mengharapkan bacaan dari kita? Satu gagasan yang kita tuliskan sama nilainya dengan satu langkah Indonesia lebih maju.

Keempat, Memahami Teknologi Dalam Perspektif Ekonomi

Perkara ekonomi adalah perkara yang sudah ada sejak Plato dan Aristoteles. Dimana kemajuan suatu bangsa dan negara juga bisa diukur dari stabilitas ekonominya. Konsekwensinya, bilamana suatu nagara ingin menjadi negara maju, maka ekonominya juga harus maju.

Indonesia sebagai negara yang merdeka sejak 17 Agustus 1945 masih saja menyandang gelar sebagai negara berkembang. Dari gelar yang disandang Indonesia, tentu ada banyak aspek yang menyebabkan kenapa Indonesia belum cakap disebut sebagai negara maju, salah satunya adalah perkara ekonomi.

Selain kurang stabilnya perekonomian di Indonesia, pemberdayaan ekonomi di Indonesia juga kurang merata. Kita paham bahwa Jakarta adalah pusat perekonomian di Indonesia, tapi meski demikian, jangan sampai Indonesia melalaikan daerahnya yang ada di area pinggiran.

Sampai saat ini kesan yang muncul adalah, semakin jauh daerah itu dengan pusat kota, maka semakin kecil pula roda perekonomiannya. Karenanya perlu ada trobosan besar agar roda perekonomian bisa stabil secara masa, dan terus mengalami perbaikan.

Beberapa tahun belakangan Jakarta telah mencontohkan hal itu. Berangkat dari ide kreatif dan jiwa memajukan, Nadiem menciptakan aplikasi Go-Jek guna memberdayakan Ojek di area Jakarta dan sekitarnya. Dengan aplikasi ini, Ojek bukan lagi menunggu datangnya bola, tapi ia menggunakan strategi jemput bola.

 

Berkat aplikasi ini pula, kini dunia perojekkan di Jakarta semakin makmur dan sejahtera. Bahkan tak sedikit para pegawai kantoran yang menghabiskan waktu luangnya untuk bergabung ke aliansi ojek online. Lagi-lagi teknologi menjadi jawaban persoalan ekonomi.

Lain ojek, lain pula dengan bisnis online. Bisnis online juga merupakan salah satu jawaban besar dari polemik perekonomian Indonesia. Bagaimana tidak, ketika seseorang yang ingin membuka usaha baru, ia harus memiliki modal yang cukup besar. Karena ia harus menyiapkan toko, pegawai, dan juga proses produksinya. Inikan sungguh sangat menyulitkan.

BACA JUGA:

Dari kegelisahan susahnya memulai usaha baru, tiba tiba anak bangsa berhasil melahirkan ide kreatifnya yang dikemas dengan teknologi, maka muncullah inisiatif toko online ataupun bisnis online. Yakni suatu usaha yang cukup dijalankan melalui jaringan internet. Tidak perlu lagi, toko yang megah, ataupun pegawai yang banyak. Cukup bermodal laptop dan internet, seseorang sudah bisa memulai usahanya.

Sikap seperti ini cukup menjadi cerminan bagi Indonesia sebagai langkah kreatif dan inovatif dalam menata dan membangun peremonomiam Indonesia. Harapannya adalah, dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara maksimal, Indonesia mampu berjalan ke arah negara Maju.

Sekali lagi, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi akan menjadi jawaban semua polemik perekonomian di Indonesia, manakala dibalut dengan ide kreatif dan jiwa memajukan bangsa. Nadeim tidak akan sesukses ini manakala ia tidak membekali dirinya untuk mengabdi pada Indonesia, begitu pula dengan Ahmad Zaky, William Tanuwijaya dan pelopor yang lain.

So, kunci untuk membangun perekonomian Indonesia adalah ide kreatif yang dibarengi dengan jiwa memajukan bangsa. Dan semua itu akan sukses besar bila disokong dengan canggihnya teknologi informasi dan komunikasi.

Itulah keempat pemahaman tentang teknologi yang harus kita tanamkan sejak diri, karena dari pemahaman yang positif, akan melahirkan hasil yang positif pula. Begitu sebaliknya, ketika kita keliru dalam mehami teknologi, maka secanggih apapun teknologi itu, ia tidak akan memberikan dampak positif bagi kemajuan bangsa Indonesi, atau justru sebaliknya.

Karenanya, mulai saat ini Indonesia tidak perlu gelisah ataupun gundah gulana, sebab kegundahan itu telah terjawab oleh teknologi. So, Ayo Majukan Indonesia Dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi.

2 Comments

  1. Membahas teknologi dari berbagai perspektif. Saya setuju, karena kemajuan teknologi harus melibatkan semua elemen bangsa ^_^

    Reply
    1. Elemen kehidupan bukan lagi Air, Udara, Tanah dan Api, tapi juga Internet.

      So, Avatar harus di amandemen hahaha

      Reply

Post Comment