Beranda Gaya Hidup Pemuda Rabbani Kebangkitan Bangsa

Pemuda Rabbani Kebangkitan Bangsa

141
0
BERBAGI
Pemuda Rabbani Kebangkitan Bangsa
Sumber Gambar Remaja Rabbani

“Berikan aku 10 orang pemuda maka aku akan mengguncang dunia” (Ir. Soekarno).

Oleh: Erika Eriyanti, STEI SEBI

TINULIS.ID  – Itulah ungkapan Bapak Proklamator kita. Dimana beliau sangat mempercayai bahwa pemuda memiliki semangat yang membara, menggetarkan bahkan mengguncang dunia hanya untuk mewujudkan satu tujuannya yaitu Kemerdekaan dan Kebangkitan Bangsa.

Dilatarbelakangi hal tersebut maka kita hendaknya mengetahui betapa besar peran pemuda dalam mewujudkan kebangkitan bangsa. Terlepas dari status sosialnya, pemuda memiliki satu semangat perubahan yaitu reformasi.

Agent of change

Melihat sejarah, lahirnya reformasi diawali dengan adanya perpaduan satu cita pemuda yang menuntut turunnya presiden kedua Indonesia yaitu Soeharto. Dengan perpaduan inilah Indonesia memulai babak baru dalam sistem pemerintahan.

Namun kini semangat juang dan perubahan pemuda sebagian besar banyak mengalami stagnasi dan distorsi akibat disoreintasi. Pemuda kehilangan peran vitalnya sebagai salah satu agent of change bagi kebangkitan bangsa.

Saat ini pula mereka buta akan realitas sosial yang ada, ditambah dengan perilaku individualis, pragmatis, hedonis dan konsumtif yang menyebabkan menurunnya citra dayas aing pemuda sebagai tonggak inovasi dan kedigdayaan suatu bangsa.

Hal ini membuat posisi daya saing Indonesia yang kembali turun. Dalam laporan The Global Competitiveness Index 2012-2013, Indonesia menempati posisi ke-50 dari 144 negara di dunia dengan skor 4,4, atau turun 4 level dari tahun lalu yang berada di posisi 46.

Sungguh ironis, di kawasan ASEAN saja, daya saing Indonesia sendiri berada pada posisi ke 40, lebih baik dari Filipina di urutan 59 dan Vietnam dengan rating 70, Laos 81, Kamboja 88 atau Myanmar di posisi 139. Indonesia masih berada di bawah Thailand dengan rating 37, Brunei Darussalam di posisi 26, dan Malaysia di peringkat ke 24.

Data ini menunjukan posisi tawar daya saing Indonesia sedikit mengkhawatirkan disbandingkan dengan Negara tetangga. Betapa bangsa besar ini masih kurang kompetitif dibandingkan dengan negara tetangga yang secara defacto memiliki sumber daya alam sedikit.

Gerakan Inovasi dan Kreasi Pemuda

Daya saing yang kurang progresif dan malahan dicederai dengan ketidakmerataan kreatifitas pemuda di semua level tingkatan pendidikan. Cukup mengkhawatirkan bagi sebagian kalangan intelektual muda yang notabebe sering mendengungkan gerakan inovasi dan kreasi.

Padahal kelihatannya bangsa ini punya kesempatan emas untuk terus bangkit dibandingkan Negara tetangga. Kita bisa menengok data BPS, tahun 2013 lalu jumlah pemuda mencapai 62,6 juta orang, atau rata-rata 25 persen dari proporsi jumlah penduduk secara keseluruhan.

Berkaca pada data tersebut, kekuatan daya saing pemuda memegang peran penting dan strategis membawa arah perjalanan bangsa. Pemuda dapat bertindak nyata dan menjadi factor kebangkitan bangsa. Sayangnya, dari sejumlah indikator, daya saing pemuda belum menunjukkan potensi yang sebenarnya.

Pemuda mempunyai kekuatan besar dalam membangun bangsa, namun dalam kenyataannya peran pemuda masih minim khususnya dalam UMKM padahal Indonesia memiliki 51,3 juta unit UMKM (Usaha Mikro, Kecil danMenengah) atau sekitar 99,91 persen dari total pelaku usaha bergerak di sektor UMKM (2009). Terdapat 97,1 persen (sekitar 90,9 juta) tenaga kerja di negeri ini yang bergantung pada sektor UMKM. Dengan jumlah penduduk 237,6 juta (2010) dan SDA yang dimiliki seharusnya Indonesia memiliki basis-basis UMKM yang kuat.

Keberhasilan UMKM adalah keberhasilan masyarakat Indonesia, sebab sector ini merupakan jumlah mayoritas dan memberikan kontribusi kepada Negara pada banyak bidang. Data tahun 2009, kontribusi UMKM terhadap PDB sebesar Rp 2.609,4 triliun atau mencapai 55,6 persen. Kontribusi UMKM terhadap devi sanegara sebesar Rp.183,8 triliun atau 20,2 persen, kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional 2-4 persen, dan merupakan nilai investasi yang signifikan mencapai Rp.640,4 triliun atau 52,9 persen.

Seharusnya Indonesia adalah rumah yang bersahabat bagi UMKM. Namun pada kenyataannya, tidak ringan kendala dan tantangan yang harus dihadapis ektor UMKM selama Republik ini berdiri. Diantara kendala klasik adalah permodalan, collateral, legalitas, akses pasar dan kualitas SDM.

Salah satu contoh konkretnya, walaupun pemerintah telah banyak mengeluarkan kebijakan dan peraturan guna menumbuh-kembangkan UMKM, pada kenyataannya dari data tahun 2010, baru sekitar 30 persen UMKM yang mendapat akses pelayanan bank dan lembaga keuangan lainnya. Tentu hal ini menjadi PR bagi pada pemuda dimana pemuda harus mampu menjadi tonggak pergerakan di era reformasi yang telah menjamin kebebasan berpendapat.

Pemuda harus memperjuangkan masa depan UMKM dengan menuntut sebuah kebijakan yang bisa menjamin kelangsungan hidup UMKM karena sector inilah penyumbang devisa Negara yang cukup besar. Dengan majunya sector ini tentu perekonomian bangsa akan semakin membaik.

Untuk mendukung tercipta UMKM berbasis ekonomi syariah diperlukan sumberdaya manusia yang mumpuni akan halt ersebut. Disinilah peran vital pemuda. Pemuda memiliki kapasitas untuk mengerti ilmu mengenai hal tersebut. Dengan ilmu itulah pemuda mampu menjadi penggerak sektor rill UMKM dengan berinovasi dan berkreasi untuk memberdayakan masyarakat sekitar yang kurang simpati akan pergerakkan UMKM.

4 Pilar Pergerakan Pemuda Rabbani

Pemuda mampu menjadi sumber teladan untuk menciptakan UMKM yang minus dari kegiatan perjudian, riba, ketidak-jelasan serta berbasis halal haram, dan manfaat mudarat dengan nilai-nilai yang dimilikinya.

Pemuda merupakan tonggak kebangkitan bangsa. Saat suatu bangsa memiliki pemuda yang intelektual dan berjiwa religi maka bangsa tersebut tidak perlu mengkhawatirkan masa depannya karena para penerus bangsa telah sigap berdiri untuk meyongsong kebangkitan bangsa.

Pemuda adalah pengcover suara rakyat. UMKM adalah milik rakyat, peran pemuda sangat dibutuhkan untuk membangkitkan gairah UMKM.

Pemuda sebagai agent of Change memiliki tanggungjawab dan kapasitas untuk meningkatkan arus perputaran sektor rill yang masih tertinggal dengan kecepatan arus perputaran transaksi derivative yang memihak pada kalangan pemilik modal. Tentu hal ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi masyarakat kalangan menengah kebawah.

Pemuda Indonesia khususnya para pemuda ekonom Rabbani memiliki kemampuan untuk menciptakan atmosfer simbiosis mutualisme diantara seluruh level masyarakat/peserta ekonomi tanpa menimbulkan Zero sum game (keadaan dimana ada pihak yang mengambil keuntungan dengan menimbulkan kerugian di pihak lain) dalam UMKM berbasis syariah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here