Media Informasi Terkini

Karena Pekerjaanku Adalah Menulis

1 197

Karena Pekerjaanku Adalah Menulis – Saya bangun pukul 09.00 WIB setiap hari. Kemudian saya menggosok muka dan menyeduh teh hijau. Terkadang saya mengecek tumpukan surat kabar langganan sambil mengingat apa yang saya harus lakukan hari ini. Pukul sepuluh pagi, penjaja sayur harian akan muncul di depan rumah. Jika ibu tidak berada di rumah (ya saya masih tinggal dengan orangtua) saya akan keluar untuk membeli sayur dan memasak.

Bukan saya enggan chit-chat dengan tetangga, saya menyukai bisa berbincang dengan ibu-ibu komplek ketika berbelanja sayur. Hanya saja, perbincangan itu selalu sampai ke bagian yang-saya-tidak-tau-harus-jawab-apa

Perbincangan yang membuat saya malas itu dimulai dari: “Nadya sudah lulus kuliah? Apakah sudah mendapat pekerjaan? Pekerjaan apa itu? Kantornya di mana?”

Pertanyaan yang sama ketika penyedia pijit datang ke rumah dan melihat saya asyik di depan laptop dengan tumpukan buku di sebelah kemudian bertanya, “Neng, kok jam segini belum berangkat ke kantor?”

BACA JUGA:

Saya tahu itu semua sekedar pertanyaan basa-basi untuk mencairkan suasana. Dan dari pertanyaan tersebut saya paham tentang definisi bekerja untuk masyarakat Indonesia pada umumnya.

saya mulai menulis sejak kelas empat SD sekitar tahun 2004, ketika itu saya minta dibelikan buku diary oleh orangtua saya dan semenjak itu saya tidak bisa berhenti menulis sampai sekarang. Peralihan teknologi dari diary lembaran menjadi digital dalam bentuk blog saya lalui dengan mudah.

Baca Juga :  Belajar Ngeblog Bareng Seorang Dokter

Dari kebiasaan tersebut, saya menjadi terbiasa menulis. Walau tidak pernah mendapat penghargaan apapun dari menulis, saya tahu bahwa saya menyukainya dan saya mau menjadikan menulis sebagai profesi saya.

Pekerjaan menulis tidak membuat saya bangun setiap hari pukul 7 pagi dan mandi. Ya, mandi. Aktivitas yang tidak terlalu saya sukai. Menulis memang membuat saya tidur lebih larut karena semakin malam, suasana semakin tenang.

Saya bisa menulis seharian di depan komputer dan saya kemudian membaca buku atau bermain media sosial ketika saya lelah. Tapi orangtua saya kebingungan dengan pekerjaan apa yang saya sedang kerjakan. Begitu juga tetangga dan beberapa kenalan lainnya

Pemahaman masyarakat kita masih terbatas pada: lulus kuliah kemudian kerja. Ya, saya lakukan itu. Tapi pekerjaan yang dimaksud oleh orangtua dan tetangga saya mungkin adalah definisi pekerjaan kelas menengah.

Pekerjaan yang didefiniskan oleh kelas menengah adalah pegawai pemerintahan, wiraswasta, ataupun petani dengan usaha kecil (Gerry Van Klinken). Menulis bukan pekerjaaan, begitu pula dengan penelitian sosial. Bekerja bukan berada di dalam rumah seharian dan berada di depan komputer. Bekerja adalah ketika kamu mempunyai kantor dan boss.

Tulisan yang bagus tentang gambaran pekerjaan bagi kelas menengah saya temukan dalam penelitian Wenty Marina Minza berjudul “Etnisitas dan Cita-cita Orang Muda di Pontianak”. Penelitian ini memaparkan bagaimana anak muda memproyeksikan pekerjaan impiannya yang dipisahkan dari dua etnis mayoritas di Kota Pontianak yakni Melayu dan Tionghoa.

BACA JUGA:

Baca Juga :  Ini Cerita Bloggerku, Mana Cerita Bloggermu?

Anak muda Melayu beranggapan bahwa pekerjaan ideal adalah sebagai PNS. Sekalipun menjadi guru, guru yang dimaksud adalah guru PNS. Lain halnya dengan anak muda Tionghoa yang mendambakan pekerjaan di perusahaan swasta bergaji besar. Dengan gaji tersebut ia bisa jalan-jalan ke luar negeri.

Hasrat anak muda untuk menjadi PNS tidak hanya di Pontianak. Saya ingat salah seorang senior saya pernah mati-matian ikut tes khusus CPNS agar cita-citanya menjadi Camat wilayah Tebet tercapai. Padahal terakhir dia mengatakan kepada saya bahwa ia mau serius menjadi manajer untuk sebuah band yang sudah mulai cukup terkenal di kampus.

Keinginan untuk menjadi PNS ini saya lihat muncul pada tema komik lokal dengan citarasa Mangga di aplikasi webtoon berjudul “My Pre Wedding”.My Pre Wedding bercerita tentang sepasang suami-istri muda yang bekerja sebagai PNS. Komik tersebut menceritakan tentang kisah keseharian pasangan ini.

Komik tersebut laku keras. Bahkan saya yang bukan seorang penggemar komik (lagi) mengetahui tentang komik tersebut. Saya curiga, kesuksesan komik tersebut apakah karena di dalamnya menjual impian ideal anak muda Melayu kelas menengah yang mengharapkan menjadi PNS sebagai pekerjaan idamannya?

Padahal, citra PNS tidak terlalu baik. PNS identik dengan pekerjaan sedikit dan malas-malasan tapi gaji stabil dan tunjangan aman. ‘Hidup yang mudah’  menjadi alasan mengapa pekerjaan sebagai PNS menjadi diidam-idamkan. Tapi mungkin menjadi PNS di DKI Jakarta cukup sulit karena gubernurnya galak.

Baca Juga :  Hal Wajib Yang Harus Dilakukan Untuk Menjadi Blogger Hebat

Terkadang, kalau ibu saya merasa ‘gerah’ melihat saya seperti pengangguran yang hanya berada di depan laptop dan tidak memakai seragam dan pergi ke kantor seperti yang lainnya, saya mencari pekerjaan alternatif sebagai guru les agar ibu saya tidak merasa khawatir bahwa saya tidak punya pekerjaan dan kantor.

Walau saya berkali-kali bilang bahwa pekerjaan saya adalah penulis, orangtua saya masih menganggap menulis bukan sebuah pekerjaan. Punya pekerjaan adalah ketika kamu bangun pagi, pakai seragam dan berangkat ke kantor

Penulis di Indonesia tidak dianggap sebagai profesi karena mayoritas orang Indonesia tidak suka membaca buku. Ditambah pajak buku yang cukup membebani, sehingga jika ada orangtua yang memiliki anak bercita-cita sebagai penulis, ia pasti khawatir dengan kelangsungan hidup si anak. Seperti orangtua saya.

Kelas menengah dengan alternatif pilihan pekerjaan yang mudah terus-terusan mereproduksi dirinya. Anak-anaknya tidak diberikan pengetahuan bahwa ada alternatif pendidikan dan pekerjaan jika kamu tahu bagaimana mengembangkan diri kamu.

Murid terus didorong oleh guru-gurunya untuk mengejar nilai yang bagus dan bukan untuk mengejar pengetahuan. Calon mahasiswa digiring untuk berebut mendapatkan jurusan yang mampu memberikan prospek kerja yang jelas (PNS atau Pegawai Swasta), dan para fresh graduate berlomba untuk mendapatkan pekerjaan yang direbutkan ribuan orang.

Ribuan orang menyemut, berbaris setiap hari untuk masuk ke gerbong-gerbong kereta pada waktu yang sama. Dan pada waktu yang sama, orang-orang mengeluh macet. Oleh Nadyazura –

Show Comments (1)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More