Home | Artikel | Jodoh, Dijemput atau Tidak?

Jodoh, Dijemput atau Tidak?

Tinulis ID – Bahasan mengenai jodoh, mungkin tak pernah habis diulas. Sudah banyak buku terbitan baik fisik maupun digital, sebatas mengkaji satu bab ini. Namun wacana tersebut hanyalah sebatas teori tanpa aplikasi jika subjeknya hanya diam.

Walaupun kata orang “Jodoh di tangan Tuhan” pun perlu untuk diraih. Sebab jodoh bukanlah takdir. Banyak orang salah tafsir mengenai satu hal ini. Mengira bahwa hidup, mati, rejeki, jodoh, itu sudah ditentukan Tuhan.

Ibaratnya sudah dari orok. Setidaknya demikian kata mbah-mbah saya ketika mereka masih bersama kami. Sangat mengejutkan ketika hal ini terbantah.

“Jodoh itu seperti nasib. Jodoh bukan di tangan Tuhan, tapi di tangan manusia sendiri.”

Kalimat ini keluar dari seorang Ustad di pengajian kampung kami.  Sedikit terperanjat, sebab kata “mbah” saya tidak demikian. Namun nyatanya logis memang. Bukankah manusia diminta untuk berupaya mengubah nasib?

Jika nasib hidup sengsara namun selama berupaya keras, nasib itu akan berubah sejalan dengan takdir yang ia ambil.

Sama halnya dengan jodoh.   Ia tidak akan datang tanpa kita cari. Seperti saat kita lapar maka kita cari makanan, kenyang lalu nyaman. Jodoh, jika kita tidak mencari.

Jangan harap tiba-tiba datang. Bahkan durianpun butuh proses untuk ia jatuh dari pohonnya. Dan mencari jodoh, adalah prosesnya.

Sebagian orang beranggapan bahwa laki-laki lebih pantas mencari jodoh dibanding perempuan. tidak salah, memang. Sebab inilah harganya perempuan, ia dicari sebab ia berharga. Bahkan ada anggapan jika laki-laki bisa sangat mudah memilih satu dari jutaan perempuan untuk ia nikahi.

Namun jangan lupa, perempuan pun berhak menolak laki-laki yang datang untuk melamarnya. Jadi jangan kepede-an laki-laki yang mentang-mentang milih si A karena bla … bla … bla … lalu saat ia utarakan cintanya, si A cuman menjawab, “Maaf. Saya tidak berminat sama abang.”

Menjadi salah jika jawaban tersebut disalahtafsirkan seperti, “Dasar perempuan gak tau diri. Untung gue mau nikahin. Belum tentu juga cowok lain mau sama elu.” Ini adalah kesalahan terbesar laki-laki. Cinta ditolak umpatan bertindak.

Perempuan sekarang, alhamdulilah lebih cerdas dibanding perempuan jaman dulu. Waluapun harus diperjelas perempuan mana yang dimaksudkan. Perkembangan teknologi komunikasi memudahkan banyak orang memiliki kenalan diseluruh pelosok dunia.

Hal ini berimbas dalam status hubungan seseorang. Dibalik pemberitaan penipuan atau penculikan dalam dunia online, beberapa pasangan berhasil hidup menjalin rumah tangga atas jasa yang sama.

Lalu bagaimana memilih jodoh, jika jodoh itu ada di tangan kita sendiri? Jawabannya, dekati dan resapi. Berarti boleh ya menjalin hubungan cinta dalam “pacaran” jika gak cocok bisa putus, kan. Pacaran atau tidak itu pilihan.

Namun bukankah islam mengajarkan ta’aruf. Mengapa harus pacaran jika hanya sekadar kenal, mengenal, tidak cocok lalu putus. Apa tidak sayang dengan hati kita sendiri, setidaknya menjauhi omongan bahkan masalah dibelakang hari. “Eh, itu dulu pacarnya banyak loh.” Gak enak dengarnya, kan. Salah-salah disebut playboy, atau player.

“Tidak ada yang lebih pantas bagi dua orang yang saling mencintai kecuali menikah.” [HR Ibnu Majah]

Be Inspiring, Ramadhan Rahma : Wah … jika ta’aruf yang ngajakkan laki-laki. Yang minta kenalan kan laki-laki. Perempuan ya apa berani minta ta’arufan. Inilah budaya yang tidak bisa dipersalahkan. Sebagai perempuan memang sebaiknya mampu menjaga diri dengan tidak mengumbar hati untuk laki-laki. Bukan berarti tidak diperbolehkan menyatakan cinta terlebih dulu.

Gadget di tangan kita adalah bukti bahwa jaman siti Nurbaya sudah lewat puluhan tahun lalu. Perempuan saat ini punya hak yang sama dalam menentukan takdir, entah pekerjaan atau jodoh. Tapi bagaimana menggunakan hak itu dengan cantik dan menawan, inilah triknya.

Jangan mau dipandang murah atau gampangan. Sebab ingat, laki-laki berhak memilih, perempuan berhak menolak. Keputusan berarti ditangan perempuan. jika dia enggan, jangan paksa agar ia menerima.

Perempuan tidak pantas menyatakan cinta terlebih dulu. Kata siapa? Lihatlah Khadijah binti khuwalli, istri baginda Rasul. Janda cantik kaya raya, menolak puluhan pinangan hingga bertemu Muhammad sebagai kolega bisnisnya.

singkat cerita, Khadijah jatuh cinta. Apakah khadijah meyatakan cintanya? Tidak secara langsung. Ia kisahkan kegundahan hatinya, keinginan, dan perasaan cinta itu pada Nafisha, sahabat Khadijah. Oleh Nafisha hal ini ia sambungkan langsung pada Muhammad. Gayung bersambut, Muhammad pun memiliki rasa yang tak kalah padanya.

Nafisha, pada jaman sekarang dikenal dengan “mak comblang”. Kedudukan ini ternyata penting, terutama bagi perempuan yang ingin mengutarakan cinta tanpa berujar langsung. Bahkan sang ayah dari perempuan juga memiliki hak untuk mencarikan tambatan hati untuk putrinya. Ayah, pun bisa menawarkan anak gadisnya kepada laki-laki pilihan putirnya.

Jika kepercayaan diri meluap, perempuan pun mampu mengutarakan cintanya pada laki-laki. Dengan catatan, menjaga nama baik dan harga diri. Jujur menyampaikan rasa itu lebih utama namun harus diimbangi dengan kerelaan.

Persiapan terbaik adalah persiapan penolakan. Siapkan hati untuk menerima kabar terburuk walaupun menyakitkan namun lebih baik dibanding menggantung. Dan jangan pernah berharap sesenti pun pada orang lain. Bukan karena tidak percaya, tapi sayangilah hati sendiri.

Jika seorang laki-laki datang namun perempuan tak berkeinginan, maka:

  1. Sambut ia, laki-laki, sebagai tamu. Bersikaplah baik, lepas dari menerima atau menolak. sambutan baik akan membuat hati orang lebih dihargai, merasa dihormati walaupun diri tidak berkeinginan.
  2. Pasang wajah ramah, jangan pasang wajah jutek. Ini namanya tidak menghargai. Setidaknya perempuan mampu menjaga perasaan laki-laki yang ditolaknya nanti.
  3. Sampaikan penolakan dengan kalimat yang baik, santun, dan dengan senyum. Pilihan kata disini amat dibutuhkan. Hal ini juga akan menjaga citra perempuan itu sendiri.
  4. Jika perlu, hindari kata tidak suka, tidak cocok, atau kata tidak lainya. Sampaikan terlebih dulu “Maaf”, semisal, “Maaf. Saya belum ada rencana menikah. Terimakasih iktikat baiknya, akan saya pikirkan jika sudah punya keinginan.” Atau kalimat sejenisnya.
  5. Jangan lupakan kata terima kasih. Sebab dengan laki-laki itu datang itupun sudah menunjukkan ihtikad baiknya. Bagi laki-laki, mendatangi ayah gadis yang ia cintai untuk ia lamar, susahnya subhanallah. Sebab ada ketakutan besar untuk ditolak, menerima rendah diri atau kurang. Sehingga jika datang seorang padamu dengan niat baik, sambutlah dengan baik dulu. Setidaknya ini aplouse luar biasa baginya. Dan pertanda si perempuan bernilai.
  6. Dengan memberi penolakan yang baik apabila suatu ketika takdir diputar kembali, kedua belah pihak masih bisa memikirkan kembali keputusan baru. Sehingga tidak ada rasa canggung diantaranya.

Cinta, jodoh. Bukan lagi menjadi hal klasik lagi. Sebab ia adalah rasa yang selalu terbarukan. Takdir ini ada ditangan kita sendiri sebagai pilihan hidup. Dan jika pilihan itu sudah diambil, tidak boleh ada penyesalan kemudian.

Konsekwensi dengan apa yang telah dipilih baik ataupun buruk. Sebab yang baik patut dipertahankan, dan yang belum baik masih mampu dibaikkan.

About Ramadhan Rahma