Mengenal Jenjang Pendidikan Blogger

Mengenal Jenjang Pendidikan Blogger

Mengenal Jenjang Pendidikan Blogger – Menjadi seorang blogger bukan perkara “buat blog, pasang tema, nulis, optimasi, lalu adsanse”, bukan. Tapi menjadi seorang blogger juga ada tahapannya, ada fasenya. Semua itu tak ubahnya dengan pendidikan formal di Indonesia. Ada SD, SMP, SMA S1, S1 dan S3, kesemua itu adalah fase yang harus dijalani manakala ia ingin menjadi seorang manusia berkualitas.

Jika kita perhatikan lebih dalam, setiap jenjang pendidikan di Indonesia memiliki pengalaman dan karakteristik tersendiri, baik itu SD maupun S3. Masing-masing ada pengalaman pribadi, sikap individu atau hal-hal khas yang hanya diperoleh pada masanya saja.

Pertama adalah masa SD. Pada masa ini kita mulai berkenalan dengan yang namanya membaca, dunia menulis, merangkai kata dan mengarang cerita. Semua perkenalan ada disini. Yang awalnya kita tidak tahu bagaimana menulis secara baik, kita bisa menulis dan mengarang cerita.

Kita tak peduli bagus atau tidaknya cerita yang kita tulis, yang ada dalam pikiran kita hanyalah bahwa saya sudah bisa membaca dan menulis, titik. Pada masa ini pula kita juga acuh tak acuh atas apa yang terjadi disekeliling kita. Kita hanya fokus bagaimana kita bisa menulis lebih baik dan banyak. Entah rapi atau tidak, teratur atau berantakan, kita gak peduli, yang penting menulis.

Kedua adalah masa SMP. Di masa ini kita mulai paham apa itu penampilan, sehingga yang awalnya kita hanya sekedar menulis, kita mulai merapikan tulisan kita. Bahasa yang digunakan juga cenderung lebih baik, serta bahasan yang dipakai juga sedikit pilih-pilih.

Masa SMP juga merupakan masa dimana kita mulai tertarik dengan lawan jenis. Kita sering tengok sana tengok sini, lirik sana lirik sini, semua jadi sasaran pelirikan kita. Begitah SMP, adalah waktu yang mampu mengantarkan kit menuju kedewasaan.

BACA JUGA:

Selanjutnya adalah masa SMA. Masa SMA bisa dikatakan sebagai mana labil. Yakni masa ketika seorang remaja berusaha menemukan jati dirinya. Pada masa ini pula kita juga akan mengalami yang namanya pebertas. Karenanya sangat wajar adanya jika dimasa ini kita seringkali goyah kesana-kemari tanpa berpikir dua kali.

Di masa labil ini pula kita juga seringkali gonta-ganti pasangan, laju hidup, ataupun goal-goal yang telah kita rancang sebelumnya. Semua seolah mudah sekali untuk berubah-ubah, ada yang baru langsung tergiur. Baru menjalani yang baru, tiba-tiba langsung bosan. Ya itulah masa SMA, masa dimana kelabilan ada dimana-mana.

Keempat adalah masa S1 atau Sarjana. Nah, pada masa ini seseorang sudah mulai menemukan jati dirinya, kemana arah hidupnya dan bagaimana polanya. Seseorang yang berhasil menginjak masa ini ia akan ditemukan dengan banyak teori, beragam eksplorasi dan percobaan-percobaan.

Karenanya jangan heran manakala menjumpai seseorang yang “sok” sibuk dengan gaya, teori atau gemelut eksperimen. Bahkan berbagai hal baru mulai berani ia coba, yang sebelumnya tak berani melakukan hal ekstrem, tapi kini ia mencobanya. Begitulah masa Sarjana, suatu masa yang akan menyelimuti kita dengan teori dan eksplorasi.

Yang satu ini seseorang sudah mulai dewasa, karena ia sudah merasa cukup untuk bereksperimen, mencoba hal-hal baru, atau mungkin menyibukkan diri dengan teori. Kali ini adalah masa S2 atau Megister.

Yaps, pada masa S2 seseorang akan memulai langkahnya dengan perencanaan temuan baru, ia berusaha penuh bergelut dengan konsep, pola atau rancangan-rancangan. Pemikirannya sudah bukan lagi hanya untuk coba-coba, tapi apa yang ia lakukan agar bisa bermanfaat bagi orang lain.

Baca Juga :  10 Tips Termahal Yang Mampu Membuat Blog Kalian Mahal

Ia berpikir untuk membangun gagasan, ia bergerak untuk menemukan konsep, dan ia memutuskan untuk kebermanfaatan. Inilah ciri khas Megister, tesis yang ia bangun bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi bagaimana ia membangun tesis agar bisa dirasakan manfaatnya oleh orang sekitarnya atau menjawab kekeliruan-kekeliruan yang selama ini dibiarkan.

Tarakhir adalah masa S3 atau Doktor. Di masa puncak puncak pendidikannya tentu ia sangat berbeda dengan masa-masa yang ada dibawahnya. Ia sudah tidak lagi memikirkan eksperimen, gagasan baru atau malah percobaan-percobaan yang ujung-ujungnya hanya nihil.

Pada masa puncak pendidikan, seorang Doktor sudah mulai berpikir bagaimana setiap gerak dan keputusannya mampu memberikan perubahan, memberikan pengaruh yang luas. Bukan hanya sekitat, tapi menyeluruh. Karena pada masa ini seseorang sudah dianggap matang untuk memberikan kontribusi pada masyarakat luas.

BACA JUGA:

Tidak hanya itu, ia juga memiliki tanggung jawab untuk membangun generasi baru, membentuk tunas-tunas Doktor yang baru. Seorang Doktor harus belajar, tapi ia juga wajib untuk mengajar. Karena dengan cara inilah dinamika pendidikan akan terus berlangsung, tanpa sikap mengajar atau membangun generasi baru, habislah sudah manusia-manusia Doktoral di muka bumi.

Begitulah masa-masa di setiap jenjang pendidikan. Adakalanya kita masih bermain-main, labil, suka hal-hal baru, sampai pada memikirkan bagaimana membawa perubahan pada masyarakat. Kesemua itu adalah proses yang harus dijalani daj kita nikmati.

Namun perlu diingat, tidak semua dari kita mau atau mampu untuk ke tingkat yang lebih atas. Kadangkala kita sudah berhenti dan cukup puas pada tingkat Sarjana, atau malah kita sudah menyerah pada tingkatan SMA. Alhasil, keahlian kita pun akan cukup sampai disitu saja.

Tak ubahnya dengan blogger, pada perjalanannya blogger juga memiliki jenjang atau masa-masa tersendiri, ada masa SD, SMP, SMA sampai juga S3. Nah, berikut adalah masa-masa yang akan dihadapi blogger di setiap jenjangnya. Anda yang mana? Silahkan simak ulasan selanjutnya.

Masa SD, adalah masa diman seorang blogger baru dilahirkan. Ia baru saja mengerti bagaimana membaca, menulis, menyusun kata tanpa memperdulikan kualitas dan maksud apa yang ia tulis. Ia menulis untuk berlatih, dan ia menulis agar terlihat bisa.

Tak peduli template apa yang ia pakai, pokoknya menulis saja. Jangankan template, warna dan ukuran huruf saja tak ia pedulikan. Ia juga tidak berpikir apakah orang lain membacanya atau tidak. Semua ia kerjakan karena ini adalah dunia barunya.

Barulah ketika seorang blogger menginjak masa SMP ia mulai sadar akan penampilan. Ia sudah mulai paham bahwa akan ada seseorang yang membaca tulisannya. Ia juga mulai mengerti bagaimana menulis agar enak dibaca.

Pada jenjang ini seorang blogger cenderung sibuk memilih topik yang ia bahas. Apakah ini atau iti, meski pada akhirnya akan selalu ganti topik seminggu sekali. Ia meraba-raba kemana yang ia mau, sampai niat nakal pun mulai muncul. Demi menjaga harga dirinya dan blognya terlihat aktif, ia berani untuk copas kesana kemari, tanpa memahami dampak buruk yang akan terjadi.

Baca Juga :  6 Arti Mimpi Naik Haji menurut Islam dan Primbon Jawa

Setelah memulai masa pencarian jati dirinya, ia akan melanjutkan ke jenjang yang lebih labil, yakni SMA. Di masa ini ia bukan malah menemukan jati diri, ia jutru akan dihadapkan dengan masa pubertas. Dimana seorang blogger akan mudah sekali tergoda dengan keseksian template.

Sekali ia melirik template yang terlihat sexy dan semok, ia menghampiri dan memakainya. Setelah beberapa hari ia pakai, rasa bosan pun datang dan ia pun membuangnya. Kemudia ia mencari-cari lagi template yang lebih menawan dan menggiurkan, setelah ketemu langsung ia pakai, setelah seminggi, ia buang lagi. Begitu seterusnya.

Tak sampai disitu, sesekali ia juga merasakan mimpi basah atas apa yang dipikirkannya. Kadang ia berpikir menjadi blogger yang mengulas wisata itu menarik, tapi setelah ia coba dirinya merasa kesusahan. Ia berganti ke niche gado-gado, beberapa lama ia jalani, ah ternyata tak memuaskan juga.

Entah obat apa yang harus ia gunakan agar saat ia main dia bisa bertahan lama. Akhirnya blogger SMA pun memutuskan untuk mengulas isi hatinya. Alhasil, bukan kebanjiran yang dapat, tapi kesepian dan kesunyian. Sungguh masa SMA adalah masa seorang blogger berusaha keras untuk mencari jati dirinya. Ia labil, sehingga mudah sekali tergoda dengan apa yang ia lihat.

Barulah ketika ia sudah tamat SMA dan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, ia mulai dikenalkan dengan berbagai macam teori. Apa yang tak ia temukan dimasa SMP atau SMA mulai ia temukan disini.

Meski terkadang ia juga tergiur dengan template cantik dan menawan, ia berusaha konsisten dan menyibukkan diri mencoba teori yang baru ia pelajari. Baik itu SEO, mengenal konsep penulisan, atau menulis artikel agar dibanjiri pengunjung.

Saperti kata pepatah, semakin tinggi tingkat seseorang, maka akan semakin kencang pula angin yang menerpanya. Sehingga tidak heran jika ia mulai berani melakukan hal-hal ilegal atau dilarang. Ia mencoba trik BlackHat, Copy Paste yang aman, menggunakam script berbahaya, atau tool yang sifatnya merugikan dan memanipulasi.

Semua teori ia coba, karena disinilah seorang blogger banyak menemukan hal baru. Ia berpikir bahwa apa yang ia lakukan akan menguntungkan dirinya, ia juga belum berpikir tentang sekelilingnya. Yang ada hanyalah, apa yang aku temukan, harus aku coba.

Masa sarjana adalah masa bagi blogger untuk mengeksplorasi, berpetualang, mencoba hal-hal baru dari apa yang ia pelajari. Bahkan tak jarang pula seorang blogger yang mengadu keahlian di kontes-kontes blogging. Baik itu SEO, menulis konten, atau web design.

Setuntas sidang skipsi dan dia dinyatakan lulus, selanjutnya ia akan menapaki jenjang yang lebih tinggi. Ini bukan lagi jenjang “teori apa yang akan saya pelajari” atau “kejuaraan apa yang harus saya menangkan”, tapi ia sudah mulak berpikir sekelilingnya. Sikap individualis yang bergelora saat masih Sarjana digantikan dengan sikap sosialis.

Pada tahap ini saorang blogger juga akan mengemban amanah, bagaimana tulisannya mampu berpengaruh dan membawa perubahan pada sekitarnya. Ia belajar teori bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk membangun konsep. Yang mana, dengan konsep tersebut ia bisa berpengaruh pada orang disekitarnya.

Ujian terakhir yang akan dihadapinya bukan kontes atau perlombaan blogging, tapi gagasan apa yang akan ia bangun agar masyarakat disekitarnya bisa merasakan manfaat atas keberadaannya. Atau dalam kata lain, manfaat apa yang akan diperoleh masyarakat ketika ia menjadi seorang blogger. Ia menulis bukan untuk dirinya sendiri, tapi ia menulis untuk mengabdi, mencerdaskan, dan juga membawa perubahan.

Baca Juga :  Jangan Abaikan! Sebuah Nasihat Bisa Datang Dari Mana Saja

Jika ia berhasil lulus dalam sidang tasisnya, ia baru akan dipersilahkan melanjutkan jenjangnya ketingkat doktoral atau S3. Pada jenjang ini tidak semua blogger bisa mencapainya, hanya merekalah yang berani, dan berhasil menata hatinya untuk menemukan sebuah teori baru. Yakni sebuah teori yang dengannya perubaham akan bisa terjadi. Bukan hanya disekelilingnya, tapi pada seluruh lapisan masyarakat.

Setiap apa yang ia tulis akan membawa pengaruh, bahwa ia juga harus menciptakan suatu karya nyata. Ia tidak sekadar cuap-cuap, apapun yang ia sampaikan validitasnya terjamin. Bukan hoak seperti anak SMP, bukan pula tulisan palsu sepertinya karya anak SMA yang suka copy paste.

Setiap kalimat yang ia tuangkan akan selalu bermuatan ideologi. Siapa yang membacanya akan terpengaruh dan meng-IYA-kan. Semakin tinggi tingkat pasti akan semakin berat tugasnya. Karena itulah mengapa ia pantas bergelar Doktor.

Dan satu hal yang tidak boleh ditinggalkan, seorang blogger yang bergelar doktor juga harus memikirkan regenerasi. Ia bertanggung jawab untuk generasi-generasi selanjutnya. Maka hal yang pasti ia lakukan adalah membagikan seluruh pengalaman dan ilmu yang ia dapat kepada anak didiknya.

Siapa anak didiknya? Yakni mereka-mereka yang masih duduk di bangku SD, SMP, SMA, S1 dan S2. Ia tidak hanya bertanggung jawab atas keilmuan mereka, tapi juga karakter dan norma-norma. Karena selain pendidikan teori, pendidikan karakter juga sangat diperlukan. Buat apa teori banyak tapi karakter atau akhlak tidak punya.

Barulah setelah itu semua mampu ia jalani, ujian disertasinya akan diluluskan dan gelar doktornya pun pantas ia sandang. Itulah blogger yang bergelar doktor sesungguhnya, tak banyak memang yang mampu, tapi kita harus yakin bahwa kita bisa melanjutkan pendidikan blogger kita sampai tingkat doktor.

Yang lebih luar biasa lagi adalah, mereka yang mau melanjutkan jenjang ke tingkat P.hD. Gelar P.hD bukan sembarang gelar, gelar ini hanya akan diperoleh bagi blogger yang sudah mampu mensejahterakan masyarakat. Berkat tulisannya masyarakat yang mulanya tak tahu apa-apa, kini menjadi cerdas dan tercerahkan.

Melampaui itu, ia juga berhasil membangun suatu hukum tersendiri. Hukum yang dimaksud adalah bukan hukum seperti hanya dipengadilan. Tapi, jika Newton berhasil menemukan dan berhasil membangun teori newton dan bisa ditetapkan menjadi hukum newton. Maka blogger yang bergelar P.hD adalah mereka yang sukses membangun “hukum blogger”.

Teorinya tidak lekang dimakan waktu, sampai kapan pun teorinya tetap berlaku dan relavan untuk dilakukan. Barulah ia pantas menjadi seorang blogger yang namanya dihiasi dengan gelar P.hD. Sekali lagi ini memang sulit, tapi itulah jalannya. Menjadi seorang blogger bergelar P.hD tak semudah lulus ujian skripsi atau tesis, tapi lebih dari itu.

Itulah jenjang pendidikan seorang blogger. Setiap jenjangnya ada karakter dan sifatnya tersendiri. Tidak ada sekolahnya memang agar kita bisa menggapai tingkat tertinggi, semua itu bisa kita dapat dalam diri kita sendiri. Bagaimana kita belajar, masih di jenjang manakah kita? Dan bagaimana kita bisa lulus dalam setiap ujian? Semua jawaban itu ada dalam diri kita. Maka tanyakan pada diri kita sendiri.

So, berproseslah dan nikmatilah semua prosesnya. Jangan cepat puas dengan ijazah yang kita miliki sekarang, teruslah belajar dan jadilah seorang Profesor Doktor Blogger P.hD.

Salam kenal dari Mas Halfi 🙂

About Mas Halfi

5 comments

  1. Ajib… filsafat nya tinggi banget ni.
    Terima kasih tulisannya min, telah mengulas kemelut blogger pada sisi yang berbeda.

    Sukses selalu.

  2. Sekedar saran, bagusnya tiap jenjang seperti SD, SMP, SMA diberi h3 atau minimal bold, biar mudah membandingkan antara satu jenjang dengan yang lain. Selain itu ada juga yang typo, misalnya iti seharusnya itu…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *