Home | Artikel | Kritik Buat Blogger Munafik Seperti Kamu

Kritik Buat Blogger Munafik Seperti Kamu

TINULIS.ID – Salam sejahtera buat kalian kawan, bagaimana kabarnya? Semoga sehat selalu, lancar urusannya dan dipermudah seluruh pekerjaannya. Buat kalian yang sedang terbaring sakit, semoga lekas sembuh ya. Buat kalian yang lagi mojok karena di putus pacar, semoga lekas tergantikan. Bukankah pepatah mengatakan, kipas kipas angin angin, satu lepas cari yang lain.

Pada kesempatan kali ini saya akan sedikit mengulas tentang dunia tulis menulis, tentunya seperti biasanya, saya akan memaparkan dengan konsep yang menurut saya cukup efektif. Yakni di mulai dengan latar belakang penulisan, tujuan penulisan dan bagaimana kita seharusnya menulis.

Kalau demikian kan kita bisa faham mengapa saya menulis artikel ini, kalian juga faham tujuan apa sehingga saya menulis ini. Satu lagi kawan yang harus kita fahami sebelum saya memulai di menulis lebih jauh, apa pun itu tidak ada yang berangkat dari ruang kosong, semua memiliki sebab tersendiri, kecuali Tuhan Yang Maha Esa.

Sebenarnya tulisan saya kali ini berangkat dari kegelisahan saya atas ribuan artikel yang saya baca di ratusan blog. Kegelisahan saya yang saya rasakan bukan tanpa sebab, tapi kegelisahan ini berangkat dari artikel artikel yang di tulis seolah-olah bukan diperuntukkan untuk pembaca, melainkan untuk dirinya sendiri.

So, artikel yang dihasilkan pun (maaf) mutu dan manfaatnya pun kosong, bahkan cenderung masuk dalam kategori (maaf) artikel sampah.

Kegelisahan ini juga tidak semata-mata karena satu dua artikel saja, tapi seperti yang saya katakan ada ribuan artikel yang serupa. Lantas kenapa saya harus merespon ini, bukankah ini termasuk hak mereka? Toh itu juga blog mereka, bukan blog saya. Lalu apa urusan saya menulis artikel ini?

Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan meyampaikannya di bagian tujuan. Jadi sabar saja buat kalian yang merasa geram atau tersindir dengan artikel yang saya tulis ini. Tak perlu di bawa kehati, sebab hati tak bisa berpikir. Bawalah ke akal, agar bisa dipikirkan ulang.

Apakah yang saya tulis ini bisa di terima atau harus di bantah. Nah, jika mau membantahnya, silahkan bantah juga dengan artikel anda. Silahkan tulis artikel bantahan dan kirim ke saya. Di tunggu ya

Blogger adalah pelaku utama di balik informasi informasi yang tersedia di Internet, khususnya di Google. Blogger juga merupakan pelaku utama di balik tulisan tulisan inspiratif yang bertebaran di internet. Bukan hanya itu, blogger juga menjadi pelaku utama di balik informasi sampah tak berguna yang berserakan di internet. Kesemua itu adalah ulah blogger. Baik yang memakai jubah blogger, wordpress atau yang lain.

Menjadi pelaku utama tentu akan di sorot oleh jutaan mata. Tak ada ceritany pelaku sampingan yang lebih di sorot dibandingkan dengan pelaku utama. Sebagai pelaku yang memakai berstatus blogger tentu akan memberikan dampak yang beragam bagi status blogger itu sendiri. Agar kita lebih mudah memahami, saya akan memberikan analogi ringan di paragraf berikutnya.

Islam di Indonesia di kenal sebagai agama yang toleran. Pada faktanya di tengah pluralitas di Indonesia, Islam tetap menjadi agama yang bisa masuk di sela sela itu semua. Hampir semua rakyat Indonesia menerima keberadaan Islam, dan hampir tak ditemukan golongan yang bersuara lantang menolak keberadaan Islam di Indonesia.

Di Paris, setelah kejadian BOM kemarin, Islam di kenal sebagai agama yang berbahaya dan mengancam. Saya mendapat cerita secara langsung dari teman saya yang bernama Biru. Ketika itu dia sedang berada di Paris dalam rangka mewakili Indonesia di acar UNESCO. Dan pada waktu otu juga terjadilah BOM di Paris yang menewaskan banyak orang.

Biru mengatakan bahwa semenjak kejadian itu keberadaan umat Islam di nilai sebagai ancaman, sehingga mereka perlu di usir. Sampai sampai Biru menceritakan ia mau di bunuh oleh beberapa orang seusai turun dari kereta. Untung juga saat itu ada beberapa orang Islam yang menyelamatkannya dan membawa Biru beserta temannya ke lokasi yang lebih aman.

Sungguh mengerikan bukan. Syukur banget rasanya menjadi orang Islam di Indonesia. Orangnya ramah dan sikap toleransinya tinggi. Bintang lima deh buat warga Indonesia. Selanjutnya, apa relevansi analogi yang saya sampaikan dengan keberadaan blogger di Indonesia?

Jika suatu agama saja orang berbeda-beda dalam menilainya, karena sikap yang diaktialisasikan oleh pemeluknya berbeda-beda, apalagi pada seorang blogger? Kita tentu tidak bisa mengklaim bahwa semua yang disajikan oleh situs yang dikelola oleh personal validitasnya.

lebih rendah dibandingkan dengan situs yang jelas di kelola oleh institusi, begitu pula dengan sebaliknya. Yang menjadi ketakutan adalah pandangan buruk pada blogger terjadi sebagaimana pandangan buruk sebagian orang Paris pada agama Islam.

Pada kelanjutannya tidak hanya penilaian yang ditakutkan, tapi klaim atau mindset yang tertanam itu adalah mindset buruk. Sebagai orang Islam tentu kita tak mengharapkan Islam dikatakan sebagai agama teroris, agama kebencian, agama yang mengajarkan saling membunuh.

Sudah barang tentu kita mengharapkan sebaliknya, Islam dikenal sebagai agama yang damai, menentramkan sebagaimana visinya yakni untuk rahmatan lil alamin.

Secara menyeluruh klaim negatif terhadap agama Islam memang tidak demikian, hanya ada pada beberapa bagian negara saja. Tapi sebagai umat Islam apakah iya rela agamanya di klaim sedemikian rupa? Kalau toh banyak umat Islam yang diam tak bergerak atau hanya pembiaran, saya rasa kecintaannya pada agama patut dipertanyakan.

Mungkin semacam itulah kekhawatiran yang saya miliki pada blogger. Saya sendiri sebagai blogger sangat tidak terima jika ada segolongan orang menghina bahkan mensuarakan bahwa blogger adalah media yang minim validitas, atau bahkan menebar pemikiran negatif tentang blogger.

Dan saya rasa ini juga sudah terjadi, manakala banyak dosen yang memberikan himbauan pada mahasiswanya jika ingin merujuk pada media online, maka rujuklah media primer, bukan ke blogger. Ini seolah olah memberikan kesan bahwa apa yang disajikan blogger belum cakap atau jauh dari standar rujukan mahasiswa.

Kesan semacam itu sudah ada di mana mana, saya juga ingin menegaskan bahwa jika ada seorang blogger yang tidak merasa risau hatinya di saat term blogger sendir disudutkan, direndahkan, atau bahkan di hina, maka perlu dipertanyakan kebloggerannya.

Bagi saya, meski itu sedikit jumlahnya, tapi tetap saja itu menyakitkan. Kecintaan seseorang pada blogger misalnya, tak perlu setengah setengah, sebab menjadi seorang yang profesional dibutuhkan totalitas dan loyalitas.

Meski hanya sedikit namun luka tetaplah luka. Meski hanya lubang kecil, tapi jika dibiarkan maka akan menenggelamkan. Itu sebabnya saya ingin urung rembuk untuk memperbaiki citra blogger di mata masyarakat. Perlu adanya kajian ulang dan rekonstruksi pemahaman kembali dalam memanang blogger. Untuk itu kali ini saya akan membahas persoalan “Blogger Menulis Untuk Siapa”, sebab konten adalah raja, dari sana pula citra blogger ditentukan.


Dalam dunia marketing kemasan menjadi hal yang utama dalam sebuah produk. Berangkat dari kemasan maka daya tarik itu akan muncul, sehingga produk yang di jual harapannya akan habis terjual. Cara market seperti ini mudah sekali kita temukan dalam dunia wirausaha, bahwa kemasan dijadikan garda terdepan salam sebuah produk, barulah yang nomor dua itu isi.

Haruskan blogger menerapkan hal itu? Pada faktanya banyak sekali kita temukan blogger yang menggunakan strategi kemasan adalah yang utama. Misalnya saja, dalam menggunakan judul banyak blogger memakai kata “GEMPAR!!!”, “HEBOH!”, Wajib Tahu!” Atau lain sebagainya, tak jarang juga sampai menyebutkan nama tokoh yang terkenal untuk mengelabuhi pengujung, meski konten yang disajikan nilainya jauh dari Judul yang dipajangnya.

Fenomena semacam ini tentu tidak berangkat dari ruang kosong. Yang menjadikan blogger bertindak sedemikian rupa ialah motivasi keberangkatannya. Jika memang ia berangkat untuk mencari dollar dan membanjiri blognya dengan pengunjung, saya kira itu sah sah saja, saya pun juga demikian.

Namun yang menjadi persoalan adalah apakah cara semacam itu sudah tepat untuk dilakukan? Apakah tidak akan memberikan efek negatif pada blogger yang lain? nah, itulah yang harus jadi pertimbangan dan perlu dikaji ulang.

Para pencari syahid dalam faktanya menempuh jalan yang berbeda beda. Ada yang melalui perang melawan musuh Islam, ada pula yang mengajar agama Allah. Ini semua semata mata untuk mencari nilai syahid. Tidak ada yang salah dengan tujuan itu, karena memang Islam sendiri mengatakan bahwa mati syahid adalah sebuah keagungan.

Namun yang menjadi permasalahan, apakah jalan yang ditempuh semuanya baik dan sesuai? Tentu tidak. Bagaimana dengan orang yang melakukan bom bunuh diri secara brutal? Bagaimana dengan ISIS? Apakah ini semua bisa diterima?

Untuk itu seorang blogger dalam menggapai motivisinya harusnya memikirkan kembali, apakah cara yang dilakukan itu sudah tepat dan tidak merugikan orang lain? Terlebih merugikan sesama blogger sendiri. Ini sebabnya, mengapa sekarang banyak sekali orang yang mempertebal filter terhadap informasi di media maya, karena mereka sudah memiliki pemikiran bahwa apa yang disajikan blogger sekarang cenderung awur awuran, tidak memperhatikan kualitas dan validitas konten.

Akibatnya, para blogger yang berusaha keras guna menyajikan konten yang berkualitas terkena dampak dari mereka mereka yang mengibuli pengunjung dengan judul yang menggiurkan. Perlu diperhatikan juga, klain yang diberikan oleh orang yang kepercayaannya pada blogger mulai menghilang selalu memakai proposisi universal, bukan partikular. Inilah yang saya takutnya sejak dulu, mengapa saya terus mengutamakan kualitas konten dibanding dengan kemasan.

Jika kepercayaan pada blogger telah di dekonstruksi oleh mereka yang tak memeperhatikan konten yang disajikan, maka untuk merekonstruksinya kembali tentu jauh lebih susah. Membangun kepercayaan jauh lebih susah berkali kali lipat dibandingkan dengan merusak kepercayaan itu.

Contoh misalnya, ketika saya membaca sebuah situs yang baru saya kunjungi. Artikel yang pertama saya baca berjudu “GEMPAR !!! Ronaldo Hafal Alfatihah Karena Ozil dan ternyata isinya malah mengada ngada, dan setelah saya cek ke beberapa situs yang memang konsen dikeolahragaan, tak ada media yang mengangkat hal itu.

Ini kah jelas jelas hoak dan sampah, secara logika saja bisa diruntuhkan, jika situs yang sudah terpercaya dan terakui validnya saja tidak menyajikan hal itu, lantas apa dasarnya dia mempublish info tersebut. Bagaimana dengan validitasnya?

Jika kejadiannya sudah demikian, apakah anda masih mempercayai situs tersebut sebagai penyampai berita yang terpercaya? Bila kesan pertama saja sudah tersakiti, apakah pertemuan selanjutnya mau kembali? Jika tidak percaya, tanyakan pada teman anda.

Yang parahnya, ya kalau ini terjadi satu dua kali, tapi jika setiap kali? Maka tak salah seseorang yang menjadi korban situs situs sampah itu mengatakan “Tak ada blogger yang bisa dipercaya”. Jika demikian, bagaimana nasib blogger yang tak ikut ikutan?

Untuk itu, sebagai langkah awal untuk merekonstruksi kembali kepercayaan sebagian orang yang tersakiti karena sajian sampah tersebut, ada baiknya kita lebih memfokuskan pada kualitas konten. Kita seimbangkan antara judul yang memang menggiurkan dengan kualitas konten kita.

Jika memang artikel yang kita buat merasa berkualitas dan bisa dipertanggungjawabkan kevaliditasannya, maka silahkan saja buat judul yang sangat menggiurkan. Jangan sampai hal ini terbalik, sebab hati yang tersakiti akan semakin banyak dan dampaknya juga akan luas.

Prinsip yang harus di pegang kuat adalah kita tujukan tulisan kita untuk pembaca. Ibaratkan kita adalah sebuah pelayan. Jika layanan yang kita berikan baik dan profesional, maka pengunjung pun tak segan segan untuk mengulang.

Wajiblah kita bersadar diri bahwa yang kita tulis akan dibaca banyak orang, maka hal yang harus dilakukan adalah menjaga dan memberikan sajian konten yang baik. Mengenai gaya bahasa atau ciri khas penyampaian itu terserah kita, yang pasti kualitas dan validitas harus kuat. Terutama konten yang sifatnya informasi.

Bila selama ini kita cenderung mengutamakan kemasan dibandingkan dengan konten, maka mulai sekarang sejajarkan itu, yakni kita usahakan kualitas kemasan dan konten berbanding lurus. Ini semata mata agar citra blogger di Indonesia menjadi lebih baik.

Sekali lagi saya sampaiakan, saya sendiri merasa geram jika blogger di pandang sebelah mata, atau bahkan orang yang menjadi blogger hanyalah mereka yang tak memiliki pekerjaan. Meski itu hanya sebagian saja, tapi hati jnu geram, ingin rasanya menampar mereka dengan artikel yang.berkualitas sampi mereka mengangguk anggukan kepala.

Mari sahabat kita perbaiki kepercayaan mereka dengan mengutamakan konten dan kemasan kita. Tak ada yang salah jika kita utamakan dua daunya, bahkan kita sendidi yang untung. Mari pula kita sadarkan diri bahwa kita menulis untuk para pembaca setia kita, bukan untuk diri sendiri. Jika dari kita masih ada yang egois melakukan hal itu, cukup baginya doa yang bisa kita panjatkan untuknya.

About Kak Amel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *