Media Informasi Terkini

Kamu Newbie? Menulis Apa Saja Deh

0 2

Kamu Newbie? Menulis Apa Saja Deh – Sejatinya saya bukan penulis sebenar-benarnya penulis. Saya hanya menulis karena saya suka, selain juga sebagai pelarian diri saya dari kegundahan carut marut isi dompet. Sebutan penulis bagi saya terlalu tinggi dan berat untuk orang yang menulis sekadar saja.

Penulis yang sebenar-benarnya penulis adalah mereka yang sudah menerbitkan karya-karya penulisan mereka dan mendapat pengakuan, bukan asal-asalan menulis diari seperti saya.

Jangankan menulis buku yang masih saja mentok di kata pembuka, artikel-artikel yang saya kirim ke media, yang saya tulis dengan memeras darah dan keringat acap kali dimentahkan dengan kata-kata yang menjatuhkan semangat. Tapi itu bukan akhir dari segalanya. Bagus atau jelek itu hanya perkara selera, sangat relatif.

Oke lanjut, ingatkah kalian kepada kata “Cogito ergo sum” atau “I think, therefore I am,” atau dalam bahasa Indonesia, “Saya berpikir maka saya ada,” yang dicetuskan oleh seorang Filsuf Prancis René Descartes?

BACA JUGA:

Baca Juga :  Belajar Ngeblog Bareng Ulil Abshar

Biar saya ingatkan sekali lagi, kalimat tersebut datang dari keraguan-raguan atas eksistensi diri sendiri yang saat itu dirasakan oleh Descartes yang kemudian membawanya pada pemikiran bahwa yang satu-satu hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan diri sendiri, dengan pembuktian bahwa Ia bisa berpikir sendiri. Bingung? Saya juga. Terlalu pendek memang untuk menjelaskan istilah filosofi mendalam ini. Namun intinya kurang lebih demikian.

Lalu apa hubungannya dengan menulis? Yaitu eksistensi. Menulis adalah proses menuangkan segala yang terkumpul di otak ke dalam barisan kata-kata sebelum mengeras jadi batu di kepala.

Dengan menulis, sebenarnya kita sedang bekerja untuk eksistensi diri sendiri di masa mendatang. Kita bisa saja menulis tentang orang lain, untuk orang lain, namun prosesnya adalah milik penulis dan semua akan kembali kepada si penulis.

Baca Juga :  Beragam Masakan Indonesia Yang Kaya Akan Bumbu

Tubuh kita akan hilang ditelan zaman, namun dengan menulis hasil pemikiran kita akan kekal. Pramoedya Ananta Toer pernah bilang begini, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Dengan menulis, kita menorehkan sejarah kita sendiri. Apa pun jenis tulisan yang kita ciptakan saat ini adalah rekaman jejak perjalanan kita untuk masa depan.

Sayangnya, orang Indonesia kurang memiliki budaya menulis, kita justru kuat pada budaya tutur. Nenek moyang kita pandai dalam mendongeng, Kisah-kisah para wayang dan cerita rakyat diteruskan dari generasi ke generasi hanya melalui tutur.

BACA JUGA:

Namun siapakah yang mampu menuturkan teori-teori fisika Albert Einstein yang njlimet? Kalau tidak dituangkan dalam buku mungkin kita tidak pernah mendengar nama Einstein dalam dunia fisika modern. Karena buku juga kita mengenal nama René Descartes.

Baca Juga :  Mengenal Jenjang Pendidikan Blogger

Jika saja Ia tidak menulis, pemikiran-pemikiran filosofisnya yang luar biasa sudah hilang bersama dirinya. Meski berjarak ratusan tahun, tapi nama Rene Descartes tetap kita kenal hingga saat ini.

Begitu juga penulis-penulis besar lain yang menjadi pelopor pemikiran hingga saat ini. Dari mereka kita belajar dan mengetahui betapa kuatnya peran tulisan dalam sejarah peradaban dunia. Nama mereka tetap abadi, tak hilang ditelan abad.

Menulis juga merupakan proses mengikat ilmu. Banyak orang pandai berbicara, rajin membaca buku, menguasai teori ini-itu, praktik ini-itu tapi jarang menulis. Hal ini sangat disayangkan. Saat Ia tiada, semua ilmu dan kepintarannya hanya akan terkubur bersama dirinya.

Seperti kata pepatah kuno, “Scripta manent verba volant,” apa yang tercatat akan abadi dan yang terucap akan hilang terembus angin. Maka menulisalah tentang apa saja!

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More