Fungsi Sastra Terhadap Karya Sastra

152
SHARES
1.9k
VIEWS

Fungsi Sastra Terhadap Karya Sastra – Jika menulis hanya sekedar menulis, maka monyet pun juga bisa menulis. Sejak kalimat ini saya dengar, entah kenapa semangat untuk menulis semakin menggelora. Bukan hanya semangat, tapi juga usaha memperbaiki kualitas tulisan juga terus diasah.

Salah seorang pengajar saya mengatakan, “Hampir semua penulis hebat di dunia adalah penikmat sastra.” Apa yang dikatakan oleh beliau memberikan kesan bebas bagi kita bahwa untuk menjadi seorang penulis hebat, ia harus menjadi penikmat sastra yang hebat pula.

BACA JUGA:

Jika ditinjau lebih dalam, korelasi antara sastra dengan dunia tulis menulis memang cukup dekat. Ketika kita menjadi seorang penikmat sastra, maka dengan sendirinya kita juga akan mengenal gaya bahasa, pola pikir, emosi seorang sastrawan, dan juga konsep penulisan.

Oleh sebab ini, maka secara konsekwensi seorang penikmat sastra akan memiliki jiwa sastrawan juga. Selain itu, sedikit banyak imajinasinya juga akan terasah seiring banyaknya karya sastra yang ia baca. Kata kuncinya adalah, semakin tinggi nilai sastra yang ia konsumsi, maka semakin dekat pula ia dengan dunia sastra.

Berangkat dari sini, ketika kita sudah mengantongi itu semua, dengan sendirinya kita akan mudah untuk melahirkan karya sastra. Meski bulum sampai taraf pembukuan, setidaknya artikel yang ditulis oleh penikmat sastra akan jauh beda dengan artikel yang ditulis orang pada umumnya.

Pada jenjang selanjutnya, seorang penulis dikatakan hebat manakal ide yang disampaikannya mampu dipahami dengan baik oleh pembaca. Secara sekilas memang terkesan sederhana, tapi berapa banyak penulis yang berpuluh-puluh kali menghapus tulisannya karena terkesan bertele-tele.

Beliau juga mengatakan, “Seorang penulis hebat akan selalu punya tokoh idola, dan itu tidak cukup satu.” Mendengar nasehat ini sontak saya merasa malu tak terkira, bagaimana tidak, penulis idola saya ada dihadapan saya ini. #Curhat

BACA JUGA:

Dari apa yang beliau sampaikan saya bisa menangkap satu poin besar. Yakni kenapa kita harus memiliki penulis idola, dikarenakan dengan adanya seorang idola kita akan memiliki hasrat menjadi seperti dia, selanjutnya adalah kita juga akan belajar karakteristik penulis tersebut, baik itu pola pikir atau gaya penulisannya.

Kebalikannya, jika kita menulis hanya sekedar menulis, maka tak jauh bedanya kita dengan seorang yang ingin belajar renang tapi langsung nyebur ke laut. Selain hasilnya akan kacau, proses yang akan dijalaninya juga akan panjang dan lama. Sebab salah satu fungsi besar dari apa yang saya paparkan diatas adalah mempercepat kita menjadi penulis yang hebat dan handal.

Apakah semua penulis (baca : blogger) mau melakukan itu?

Saya mengatakan, “Hanya penulis yang tidak mau berkembang dan maju saja yang akan mengabaikan hal ini.” Kenapa demikian? Tidak perlu dijelaskan panjang lebar, karena dari sikapnya yang mengabaikan dan enggan berlatih, maka itu menunjukkan kalau dia menulis hanya sekedar menghabiskan tinta pulpen atau batrey laptop.

So, saran terbaik saya adalah, asahlah kualitas dan kemampuan menulis kita dengan memperbanyak membaca buku sastra, selain itu wajib bagi kita untuk memiliki tokoh penulis idola. Jika itu semua sudah kila lakukan, selanjutlah menulislah!

Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Member Of Community

Blogger Jakarta

Blogger Jakarta

komunitas sahabat blogger

Mengikuti Kontes Blog

Stimuno untuk Balita

Site Badge

DMCA.com Protection Status
Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.