BERBAGI

Penulis Hebat Mampu Bertahan Meski Sudah 60 Kali Ditolak, Apalagi Kalau Hanya Ditolak Adsanse – Anda percaya sihir? Pernah membaca tentang sihir, atau bahkan pernah memraktikkan sihir? Mungkin saja tidak.

Tapi tentu banyak di antara kita yang sudah tahu tentang Harry Potter bukan? Tepat dugaan Anda. Harry Potter adalah tokoh imaginasi buah karya seorang penulis yang bertalenta, siapa lagi kalau bukan JK.Rowling. Cerita Harry Potter karangannya penuh berisi tentang sihir menyihir.

Jenis sastra cerita Harry Potter adalah sepenuhnya fantasi dan berpanggung tentang sekawanan remaja Inggris yang berpetualang dengan berbekal kemampuan sihir. Bahkan siapa sangka cerita ini meraup sukses luar biasa setelah diangkat ke dunia film.

Tapi taukah Anda apa yang lebih fenomenal dibalik suksesnya novel Harry Potter itu? Bahwa sang penulis novel tersebut, yaitu Rowling ternyata pernah ditolak oleh 14 penerbit sebelum akhirnya ada yang mau menerimanya.

BACA JUGA:

Nah, sekarang kita tahu bagaimana nasib novel Harry Potter. Melejit menembus langit. Ada juga penulis yang pernah mengalami nasib sama seperti Rowling, dialah penulis terkenal lainnya bernama John Grisham. Ia bahkan lebih parah lagi, mengalami penolakan sebanyak 45 kali sebelum novel pertamanya ‘A Time to Kill’ berhasil diterbitkan. Menjadi best seller pada masanya. Tapi saat ini mari kita melihat pada satu sosok lain.

Penulis ini memang belumlah setenar atau sekaliber JK Rowling, tapi kisah kegigihan mereka hampir sama. Anda tahu berapa kali ia mengalami penolakan sebelum novelnya menjadi best seller? 60 kali! Wanita ini bernama Kathryn Stockett. Hasil karya novel pertamanya adalah The Help. Novelnya diterbitkan tahun 2009 dan penjualannya sudah menembus angka 5 juta copy. Fantastis!

Kathryn Stockett dilahirkan dan dibesarkan di Jackson, Mississippi. Setelah menamatkan kuliahnya di University of Alabama dengan program studi Bahasa Inggris (English) dan Menulis Kreatif ( Creative Writing), ia lalu pindah ke New York City.

Di New York mbak kita yang cantik jelita ini kemudian bekerja di sebuah penerbitan majalah dan bertindak sebagai marketing selama kurang lebih 9 tahun. Menurut catatan hidupnya, selama bertumbuh kembang sebagai seorang anak gadis yang lugu di daerah selatan, ia justru tidak memperhatikan betul dan tidak menyadari perbedaan-perbedaan ras diseputar kehidupannya. Tapi, pada akhirnya ia menulis sebuah novel yang menggambarkan tentang komunitas berbeda ras dengan titik fokus pembantu berkulit hitam tersebut.

Pada tahun 2001 wanita gigih ini mulai menulis novelnya yang menceritakan tentang kehidupan pembantu kulit hitam di keluarga yang berkulit putih dengan latar tahun 1960-an. Sorotannya terhadap rasisme dan diskriminasi serta bagaimana supaya tidak lagi ada class berdasarkan perbedaan ras dan warna kulit memang begitu menggigit.

Ia menyorotinya secara lugas dan tajam. Alur ceritanya menarik dan enak dibaca. Tapi apa daya, saat novel itu selesai ditulis pada tahun 2006, malang tak dapat ditolak untung pun belum tentu diraih, berkali-kali ia menawarkan hasil karyanya dan tak satu pun penerbit yang mau menerima naskahnya itu. Ia bahkan sudah merevisi kembali naskah The Help kiri kanan, memperbaiki sana-sini, tetap saja tidak dilirik sedikitpun.

Pada saat itu sudah sekitar 15 penolakan yang diterimanya. Putus asakah si Mbak Kathryn kita ini? Ooh ternyata tidak! Malah tambah semangat. Tambah terpacu. Ia tidak pernah mundur. Ia terus merevisi dan merevisi hasil karyanya sembari bertanya ke teman-teman dekatnya mengenai apa kira-kira yang kurang, dan kenapa penolakan-demi penolakan yang selalu ia terima. Ia juga mulai mengikuti simposium-simposium yang diselenggarakan oleh beberapa penulis sukses.

BACA JUGA:

Lalu suatu ketika pernah ada seorang penulis terkenal yang memberi kesaksian pada sebuah symposium, “Tetap berjuang, jangan menyerah. Saya saja pernah ditolak 16 kali sebelum novel saya diterbitkan.” Demikian ujar penulis itu berapi-api. Mbak Kathryn malah ngedumel dalam hati, “Iya 16 kali ditolak itu mah masih wajar.

Lha, saya sudah 40 kali ditolak hingga saat ini.” Tentu saja ia tetap bersemangat dan tak putus asa. Ia tetap yakin dan selalu mencoba agen penerbitan lain lagi. Dari satu pintu ke pintu yang lain. Bahkan ketika ada teman-temannya yang sudah mulai menyarankan dia untuk menulis novel dengan tema lain saja, ia menolaknya mentah-mentah. Tekadnya sudah bulat. Bahwa ia tidak akan menulis novel selanjutnya, sebelum The Help diterbitkan.

Penolakan terhadap naskahnya sangat luar biasa, bahkan sampai ia sudah melahirkan anaknya belum ada satu pun penerbit yang tertarik. Pada puncaknya, penolakan pun sudah mencapai angka 60 kali. Tapi rupa-rupanya there’s always a light at the end of the tunnel.

Kegigihan, ketekunan, dan kesabarannya sebagai seorang penulis membuahkan hasil. Pada tawarannya yang ke 61 ia mendapatkan respon baik. Agen bernama Susan Ramer bersedia menawarkan The Help ke penerbit Amy Einhorn Books. Akhirnya pada tahun 2009 ( kira-kira 3 tahun setelah karyanya itu selesai ditulis) novel itu terbit dan menjadi novel best seller di Amerika.

“Novel itu terbit setelah melalui proses lima tahun menulis, tiga setengah tahun mengalami 60 penolakan” Kata si Mbak Kathryn dengan bijak. Ia lalu menasehati kita demikian: “Karena itu jangan malu menerima penolakan, apakah itu naskah buku, lagu, lukisan, karya tari, dan sebagainya.

Jangan biarkan hasil karya itu terkunci di peti mati, karena hal itu tak akan menjadikan apa-apa. Lebih baik berikan pada obsesi Anda.” Itulah pembelajaran dari mbak kita ini, tentu saja kepada semua kita penulis di rumah ini. Luar biasa mbak!

“Sekali kita mundur karena keputus-asaan yang memuncak, berarti kita membuang berjuta-juta kesempatan di depan kita.”

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here