Home | Artikel | Blogger is Agent of Change

Blogger is Agent of Change

TINULIS.ID – Gotong royong adalah falsafah tertinggi dalam ilmu sosial. Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia juga tak lepas dari nilai gotong royong. Bahkan bapak proklamator Ir. Soekarno menjelaskan bahwa inti dari Pancasila adalah sikap gotong royong rakyat Indonesia dalam membangun dan memajukan negara Indonesia.

Sikap gotong royong beserta hikmahnya juga sering kita dengarkan. Yang terpopuler ialah ketika satu lidi dengan lidi lainnya di ikat dengan satu ikatan yang kuat maka akan mampu menjadi alat hebat yang bisa membersihkan, mengindahkan dan merapikan.

Namun jika sebaliknya, jika lidi itu bekerja sendiri sendiri tanpa ada satu kesatuan maka hampir mendekati titik kemustahilan mampu mengerjakan sesuatu yang besar.

Pancasila dalam sila ketiga menyebutkan “Persatuan Indonesia”. Ini mengejawantahkan bahwa Indonesia merdeka dengan nilai persatuan. Tidak memandang ras, suku, agama atau golongan tertentu. Hanya satu yang menjadi ikatan kuat bagi rakyat Indonesia, yakni persatuan untuk kemerdekaan bersama.

Begitu tinggi falsafah yang diaplikasikan oleh rakyat terdahulu sehingga mampu merdeka dan menjadi negara berdaulat adil dan makmur.

Itulah panorama falsafah persatuan. Sesuatu yang berat akan menjadi ringan bila ada persatuan dan kebersamaan di sana. Tidak akan berangkat suatu keranda jenazah jika hanya di gotong oleh satu orang saja, karennya butuh enam orang agar keranda itu bisa sampai ke tempat makam. Benar bukan?

Ketika kita sudah memahami makna persatuan, makna kebersamaan lantas apalagi yang menjadi hambatan kita untuk memiliki sebuah mempi besar. Suatu mimpi yang akan digapai oleh persatuan dan kebersamaan. Apapun mimpi itu, jika dihadapi dengan persatuan dan kebersamaan maka akan cepat tercapai.

Ngomong ngomong kita sebagi blogger adakah sebuah mimpi besar yang akan diwujudkan dengan sebuah persatuan dan kebersamaan? Saya sendiri mengakui bahwa di antara goal seorang blogger adalah meraih penghasilan adsanse sebesar-besarnya, sukses menulia dan menginspirasi, mampu menguasai keilmuan blogger, atau bahkan menyandang gelar Mastah Blogger Indonesia.

Cita cita besar pasti ada di antara kita. Hanya manusia bodoh (kata Ada Band) yang tak memiliki cita cita besar. Tapi perlu di ingat, sesuatu yang dikerjakan besama sama akan lebih ringan dan cepat. Bukan hanya itu, kebersamaan akan memberikan kesan yang indah serta emosi yang berbeda.

Dari sini saya ingin mengajak pada anda semua para Blogger di manapun anda berada untuk membangun sebuah mimpi besar. Sebuah mimpi untuk mencerdaskan bangsa, mengajak bangsa lebih produktif, sebuah mimpi membangun kembali tradisi literasi yang mendalam, sebuah mimpi membangkitkan kembali tradisi hebat orang orang besar terdahulu. Apa itu? Yakni menjadi seorang Blogger.

Menjadi seorang blogger maka sama nilainya dengan mendeklarasikan diri sebagai seorang penulis. Apapun bentuk blognya, platformnya, atau isi kontennya. Sebab tidak ada suatu blog yang di dalamnya tidak memuat sebuah tulisan, bisa dikatakan pula sebuah blog pasti ada tulisan di sana. Apapun itu bentuk dan isinya.

Menulis adalah sebuah pekerjaan mulia yang telah ada sejak puluhan ribu tahun yang lalu. Menulis juga merupakan kewajiban kedua setelah membaca. Menulis adalah kegiatan abadi yang mengabadikan. Menulis adalah kehidupan yang menghidupkan. Menulis adalah peradaban yang beradab. Begitu indah dan dahsyat bukan semua tesis yang saya sebutkan di atas. Selanjutnya kita akan membaca kembali serta memahami satu percatu tesis yang telah saya paparkan di atas.

Pertama, menulis adalah sebuah pekerjaan mulia yang telah ada sejak puluhan ribu tahun yang lalu. Ini adalah tesis sederhana yang saya ambil ketika telah membaca sebuah karya karya orang besar terdahulu. Mari kita ingat kembali siapa saja orang yang telah melakukak kegiatan menulis tempo dulu yang sampai saat ini namanya masih harus di seluruh jagad raya.

Para Filsuf Yunani klasik adalah pelaku utama dari tesis yang saya katakan. Sebut saja dua filsuf kondang Plato dan Aristoteles. Kedua filsuf kondang ini hidup sebelum masehi, namun kita patut mengakuinya bahwa nama keduanya sampai saat ini masih harum bak wanginya bunga melati se jagad raya.

Keduanya adalah penulis besar. Karena jasanya peradaban dunia menjadi maju. Hampir seluruh negara barat pemikiran dan hasil inovasinya dipengaruhi oleh kedua filsuf besar ini. Pemikiran besar yang lahir dari filsuf kondang ini mampu mempengaruhi hampir manusia sejagad raya salah satu sebab terbesarnya adalah karena karya tulisnya. Apakah ini bukan suatu kemuliaan?

Para ilmuan Islam juga tak kalah muliannya. Sebutlah Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Para Imam Mazhab Fikih, para Mufassir dan tokoh keilmuan lainnya, apa yang mereka lakukan sehingga sampai saat ini kita bisa merasakan indahnya ilmu ilmu Islam? Apalagi jika bukan menulis. Karena mereka semua menulia umat Islam bisa merasakan manisnya Islam dan manisnya Iman.

Sebut pula para penulis hebat lainnya yang lahir dari seluruh sudut dunia, mereka semua menjadi besar dan bisa memberikan pengaruh karena mereka menulis. Mungkin cukup dengan alasan ini kita bisa memahami bahwa menulis adalah suatu kemuliaan yang agung. Dan hampir tidak ada pula orang yang mengatakan bahwa menulia adalah sesuatu yang hina dan menghinakan.

Kedua, menulia adalah kewajiban kedua setelah membaca. Membaca adalah pintu gerbang utama menuju muara keilmuan dan pengetahuan. Jika seseorang ingin menggali dan memperdalam suatu ilmu, maka cukup membacalah! Namun ingat, jika membaca adalah pintu utama menuju muara keilmuan, maka menulis adalah pintu utama untuk memperkaya muara keilmuan itu.

Seseorang yang membaca maka ia akan memahami dan menemukan sebuah makna. Selanjutnya makna itu akan ditafsirkan kembali dengan pemahaman individual kita masing-masing. Mengapa demikian? Sebab saya dan anda memiliki pra pengetahuan yang berbeda-beda.

Jika anda seorang politisi dan saya seorang pembelajar filsafat, maka jika dihadapkan pada suatu teks tentu akan melahirkan pemahaman dan makna yang berbeda-beda. Sebab kita memiliki latar belakang pengetahuan yang berbeda-beda, dan ini sifatnya individu. Meski sama sama pembelajar filsafat, tak menutup kemungkinan ada suatu perbedaan pemahaman. Perbedaan adalah karya Tuhan, begitulah kata Fuad Mahbub Siraj, P.hD.

Berangkat dari perbedaan itulah menulis menjadi suatu kewajiban kedua setelah membaca. Mengapa? karena dengan menuliskannya kembali, kita sama nilainya dengan mengembangkan ide atau gagasan baru. Sama nilainya kita dengan memberikan perspektif baru.

Akan berbeda hasilnya jika ada seorang Ahli Teknologi menulis buku tentang pengaruh blogger, dengan seorang ahli politik yang menulis dengan judul buku yang sama. Karena perbedaan inilah yang membuat kita kaya akan ilmu pengetahuan.

Ketiga, Menulis adalah kegiatan abadi yang mengabadikan. Saya pernah mendengar secara langsung dari Cholis Akbar, seorang redaksi majalah Hidayatullah. Beliau mengatakan bahwa jika kamu ingin hidup selamanya, maka menulislah! Nasehat ini benar benar saya sepakati.

Berkaca dari ilmuan besar yang telah saya sebutkan di atas tentu kita sudah memiliki bayangan bahwa menulis memang sifatnya mengabadikan. Satu satunya orang yang tidak percaya akan nasehat ini adalah mereka yang tidak suka menulis.

Keempat, menulis adalah kehidupan yang menghidupkan. Disini mengapa saya sebut menulis adalah kehidupan. Mungkin dengan pertanyaan saya ini persoalan itu akan terjawab. Ketika anda menulis, apakah anda merasakan kehidupan baru di sana?

Saya bisa pastikan sebagian besar penulis akan merasakan dua kehidupan, yakni kehidupan sebagaimana yang kita rasakan dan kehidupan ketika dia menulis.

Selanjutnya, menulis adalah menghidupkan. Berapa banyak orang yang hatinya gundah gulana kembali fresh dan semangat setelah membaca tulisan anda? Berapa banyak orang yang terjawab masalahnya karena membaca tulisan anda yang baginya itu adalah solusi.

Berapa banyak pula orang yang semangat menjalani hidup dengan penuh percaya diri setelah membaca motivasi hebat yang anda tuliskan. Ini semua adalah menghidupkan, yakni menghidupkan sesuatu yang positif. Masihkah anda ragu bahwa menulis itu dapat menghidupkan kembali?

Terakhir, menulis adalah peradaban yang beradab. Kita faham bagaimana suatu peradaban bisa bermakna dan bernilai tinggi, yakni apabila peradaban itu mampu membawa pengaruh positif dalam segala bidang, baik keilmuan, ekonomi atau pun kemajuan.

Itu semua telah di miliki oleh menulis. Menulis mampu mengantarkan kita pada kemajuan pendidikan, ekonomi, tatanan sosial, sampai dengan kemajuan bangsa itu sendiri. Karenanya setiap tugas akhir dari perguruan tinggi adalah dengan menulis. Sebab dengan menulis ia berarti telah mampu membawa kemajuan baru dengan perspektif baru.

Itulah kawan penjelasan tentang makna menulis beserta keutamaannya. Tak perlu ragu lagi dengan menulis, segeralah mulai jika sekarang belum memulai. Jika anda ingin hidup selamanya, maka menulislah. Jika kita telah faham itu semua, selanjutnya tugas kita sebagai blogger adalah melihat kondisi bangsa kita saat ini. Mungkin dengan beberapa pertanyaan yang akan saya ajukan, kita akan faham apa yang harus kita lakukan.

Bagaimana kondisi moral bangsa ini? Berapa banyak kasus kemanusiaan yang cukup membuat hati ini geram? Bagaimana pula kondisi pendidikan kita sekadang? Apa kabar pula para generasi penerus bangsa? Apa kabar pula dunia tulis menulis di negeri ini?

Jika kita mau menumpahkan semua tentu tak akan ada habisnya. Banyak sekali PR yang harus kita selesaikan. Blogger sebagai salah satu agen perubahan dalam kemajuan sudah seharusnya bergerak serentak guna menyelesaikan semua PR ini melalui karya inspiratif dan menggugahnya. Yakinlah, satu halaman yang anda sesaki dengan gagasan inspiratif sama nilainya dengan satu langkah Indonesia menuju perubahan.

About Kak Amel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *