Home | Resensi Buku | [Ulasan] Bintaro Spring Tide
www.gerimiskata.wordpress.com

[Ulasan] Bintaro Spring Tide

Tinulis ID – Sebuah novelet yang ditulis oleh Aila Nadari dan Sigit
 
Kampus itu terkenal kejam. Setiap akhir dua semester, bagi mahasiswa yang nilainya tidak memenuhi standar, akan dikeluarkan. Pun bagi mereka yang mengalami konflik disiplin–menyontek saat ujian, plagiat dalam paper, atau berkelahi–juga akan dipulangkan. Tanpa banding. Tanpa pledoi. Tanpa ampun.
 
“Semua ini proses yang akan kalian petik buahnya nanti,” ujar pimpinan kampus
 
Tidak sedikit mahasiswa yang kemudian mengidap drop-outphobia. Mengasingkan diri lalu bermutasi menjadi makhluk apatis dan tidak peduli; yang penting berkutat dengan diktat agar nasibnya aman. Menjadi rata-rata, standar, dan pada akhirnya: membosankan.
 
Tapi tidak bagi Dey. Masa mahasiswa adalah masa pembentukan karakter. Masa membentuk myelin-myelin kepemimpinan. Masa menjadi aktivis pengguncang dunia. Bagi Dey dan segelintir kawannya, kuliah akademik tak memberikan bekal yang cukup untuk mengarungi dunia nyata. Buat apa nilai selangit, jika tidak berpengalaman memimpin dan mengorganisasi.
 
Dey tahu persis konsekuensi yang dia hadapi. Nasib akademiknya berada di ujung tanduk menjelang berakhirnya semester ke empat ini. Sementara ada sebuah pergelaran akbar yang harus dia ampu. Belum lagi, perhatiannya yang mulai luput ke usaha kecil-kecilannya dalam rangka menyambung hidup.
 
Sebagai perguruan tinggi kedinasan, keelokan kampus Dey telah memikat puluhan ribu peminat dari seluruh Nusantara setiap tahunnya. Dengan surga seketika berupa status pegawai negeri selepas lulus, siapa yang sanggup menolak?
Berdiri di tengah hiruk-pikuk kaum urban Bintaro, diam-diam kampus itu menawarkan ujian yang sesungguhnya.
 

About Neng Ryh