Media Informasi Terkini

Aku Bermimpi Menulis Sejuta Buku

0 119

Aku Bermimpi Menulis Sejuta Buku – Buku adalah sumber peradaban. Buku adalah harta karun yang tak akan habis diekploitasi. Buku merupakan sebaik-baiknya teman duduk orang berakal. Selain menyajikan inspirasi hidup, buku juga menjadi bukti tentang apa yang terjadi hari ini. Buku menjadi kado buat cucu kita kelak, yang mengurai bagaimana kisah kehidupan leluhurnya dahulu mengarungi kehidupan, untuk direguk poin hikmah di dalamnya.

Tanpa buku kita bingung bagaimana harus menjalani hidup, tanpanya kita tak kuasa meniru jejak pendahulu kita, bagaimana mereka sukses membangun sendi peradaban yang gemilang. Tanpa buku kita bodoh, tiada serapan wawasan yang mengisi kekosongan dan kebekuan ruang berpikir kita.

Berangkat dari sana…

Saya berniat untuk menciptakan buku yang laris dan mempunyai daya manfaat nan luas. Bukan saja agar saya mampu menebar manfaat lewat aktivitas menulis, gumpalan intelektual yang bersemayam di kepala yang kemudian tertuang menjadi isi tulisan pun akan menjadi pertanda bahwa apa yang saya baca itu membuahkan hasil. Tulisan adalah percik-percik dari berbagai macam perenungan kita.

Membaca, memandang, menghayati, lalu mampu menulis apa yang ia baca, pandang, dan hayati, disebarluaskan kepada khalayak luas adalah jejantan yang paling jantan.

Dalam angan dan do’a, harapan itu berkelebat setiap saat. Sambil lalu saya tetap menulis, mengasah kata, mengikat makna, saya membulatkan tekad bahwa saya harus berhasil melahirkan buku dalam waktu yang tidak lama. Ya, dalam kurun waktu dekat.

Allahummaj’alni Katiban Nafi’an Masyhuraaann. Ya Allah, jadikan aku penulis yang bermanfaat dan terkenal. Demikian penggal pinta yang kerap saya lantunkan saat do’a usai shalat.

Baca Juga :  Menulis Untuk Berbicara dan Berkembang

BACA JUGA:

Kiranya Dia perkenankan.

Oleh karena doktrin guru saya yang amat berkesan, Prof Ali Mustafa Yaqub, yang kerap memotivasi santri-santrinya dengan kalimat, “Wala Tamutunna Illa Wa Antum Katibun” “Janganlah kalian sekali-kali mati kecuali kalian telah melahirkan karya tulis!” Maka gairah saya  makin menggebu-gebu untuk segera memperanak buku-buku bagus yang memiliki intensitas manfaat melimpah.

Bahwa beberapa kawan dan senior saya di berbagai institusi keilmuan telah melahikran karya buku, saya pun tertantang untuk menandinginya.

***

Membuat buku sebenarnya aktivitas pemindahan alokasi daya tulis dari satu tempat ke tempat lain.

Saya seorang blogger yang rajin membuat postingan di blog. Saya juga kerap menulis di ruang tulis online semisal Kompasiana, Qureta, Inspirasi.co, Web As-Shuffah, dan sebagainya. Amunisi utama sudah saya genggam. Kartu AS permainan sudah saya kantongi. Tinggal tindaklanjut seriusnya saja.

Beberapa teman coba mengusulkan bahwa semua karya tulis yang sudah pernah saya buat, dan tersebar di berbagai tempat, agar dipunguti satu per satu, dihimpun, diedit, ditambahi, dikurangi, dikontekstualisasikan, lalu dikumpulkan dalam satu buku.

Saya mengangguk saja saat itu.

Sebernyalah saya sudah menggagas satu tulisan khusus bersakala puluhan lembar tentang syarah atau uraian Manzhumah Adab Thalab bait-bait Pencari Ilmu yang ditulis oleh Ibn Abdil Barr.

Ada dua kepentingan mengapa saya berminat menciptakan ulasan bait-bait tersebut.

Pertama karena bait-bait itu, bagi Darus-Sunnah, institusi tempat saya menimba wawasan di luar kampus, sudah mendarah-daging. Karena tiap malam, menimbang kandungan maknanya yang begitu dalam, sebelum pelajaran dimulai kita diwajibkan membaca kumpulan bait tersebut.

Baca Juga :  buku

Kedua sebagai pemantapan bagi diri saya sendiri, supaya apa yang diguratkan oleh Pelajar Sejati Ibnu Abdil Barr tersebut bisa merasuk, mengalir, dan menyatu dalam jiwa.

Manunggaling Kawulo Ibnu Abdil Barr.

Awal-Awal saya tulis dengan meledak-ledak. Satu bait saya preteli, saya pautkan dengan ragam persepektif keilmuan yang saya miliki. Bait berikutnya saya debat habis-habisan, saya kasih masukan lewat hasil bacaan yang sudah mendekam di kepala.

Bait berikutnya dan bait berikutnya.

Hingga rampung menjejak bait ke 4, hendak menjumpai bait ke 5, semangat tandas. Tiba-tiba bosan dan loyo. “Hayati lelah, Bang,” Ucap gairah kepenulisanku. “Yaelah, dik, semangat lagi dong…” kataku menyemangati. Ia enggan.

Gairahku mendua, meniga bahkan menyeratus. Beralih menuju ide-ide yang baru sambil meninggalkan dia yang kecewa ditinggal penulisnya.

“Selesaikan aku, tuan!” lirih terdengar di kejauhan. Kerumunan kata-kata yang saya tinggal memanggil, meneriaki minta diselesaikan. Dan saya disini, sekarang, keburu asyik dengan ide-ide baru yang lebih menyegarkan.

BACA JUGA:

Entah kapan, entah di mana, entah pada purnama ke berapa, kelak saya akan mendatanginya lagi. Menggagahi, menikmati, menyetubuhi, dan akhirnya mengklimaksinya dengan ketukan demi ketukan tuts keyboard berwarna hitam ini. Hingga purna.

Baca Juga :  Jangan Abaikan! Sebuah Nasihat Bisa Datang Dari Mana Saja

Kembali ke awal, soal menulis. Demikianlah apa yang sedikit saya uraian di atas soal membuat buku. Untuk membuat satu buku dengan tema khusus rasa-rasanya agak susah, dibutuhkan daya istiqomah dan kesetiaan yang luhur, adagium “Jaga dia selagi ada. Dan jangan dilepas” tampaknya harus digalakkan dalam konteks ini.

Berbeda misalnya jika kita ingin meniru Ibn Batuttah, sang pengembara yang mencatat hasil penjelajahannya, lalu hasil catat pengembarannya tersebut dibukukan dan menuai apresiasi gemilang di buaian sejarah. Atau meniru sosok Novie Chamelia, penulis Semudah Bermain Catur (Kumpulan Catatan Pendek), yang mengaku dirinya juga melahirkan Catatan Pendeknya lantaran diprovokasi oleh kisah Ibn Batuttah dengan catatan minimalisnya.

Ada poin penting yang disampaikan Novie mengapa kita tidak boleh meremehkan Catatan Harian. Alasannya karena penulis yang mau menggambarkan aktivitas hariannya, setidaknya ia telah membuat sejarah tentang hari ini yang kelak akan dibaca dan dikaji oleh generasi seterusnya. Dan, sudah tentu, saat kita membuat catatan harian, tak ada yang bisa membuat hal serupa dengan karya yang kita buat trsebut.

Karena setiap manusia, ketika ia mempunyai kepala terpisah, badan yang tidak menyatu, gelombang hati yang tak sama, maka saat itu, ceritera yang lahir, yang mewarnai sejarah, akan berbeda pula bunyinya.

Dear, Kamu, bisa terwujudkah impian membuat buku ini? Apa barangkali kau butuh penyemangat yang sigap hadir menyuguhi stimulus manakala kau ngantuk, tepuk tangan saat kau merampungkan satu bab, atau satu kecupan di kening yang mampu menghentak laju dan gairah semangat menulismu di kala ia lesu?

Leave a comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More