Ternyata Ada Benih Radikalisme Di Dunia Blogging

152
SHARES
1.9k
VIEWS

Ternyata Ada Benih Radikalisme Di Dunia Blogging – Siapa bilang radikalisme hanya terjadi dalam dunia agama, nyatanya virus radikalisme juga mulai memasuki dunia blogging. Sikap saling salah menyalahkan, mengkafirkan, merasa paling benar, serta tak menerima masukan, merupakan sejumlah kode adanya benih-benih paham radikalisme.

25 Oktober 2016 saya menulis sebuah artikel tentang rasa kekaguman saya terhadap Mas Sugeng. Artikel ini sengaja saya tulis menggunakan istilah-istilah keagamaan. Bukan maksud menghina, menistakan, atau menjatuhkan suatu agama, tapi untuk meningkatkan keunikan saja. Sebab saya berkeyakinan, suatu agama akan tetap suci dan terjaga kebenarannya meski sejuta manusia menghujatnya.

Ternyata eh ternyata, saya mendapatkan ledakan pengunjung yang cukup drastis. Bukan karena suatu kekeguman, tapi karena kekesalah oleh sebagian orang yang tak terima atas artikel yang saya tulis. Ada yang mengatakan ‘ini sebuah penistaan’, ada yang menganggap ‘ini berlebihan’ dan bahkan ada pula yang tega ‘mengkafirkan’. OMG

BACA JUGA:

Karena saya tipe orang yang cukup kritis, saya mencoba menelisik orang yang berujar ‘sok benar’ dan ‘sok pintar’ yang brkomentar di postingan saya. Ah ternyata yang banyak cuap-cuap justru orang-orang yang belajarnya berlandaskan ‘katanya’ dan ‘katanya’, alias bukan melalui studi ilmiah atau sejenisnya.

Akhirnya saya pun memutuskan untuk mengabaikan ocehan mereka. Alih-alih memberikan penjelasan secara ilmiah atau logis, yang ada dari mereka hanya luapan marah tak jelas ala orang mabuk. Saya sendiri sudah berulang kali memberikan kesempatan berdiskusi berdua terkait artikel itu, tapi nyatanya yang ada hanya pengalihan atau justru khutbah di Facebook.

Sungguh terlalu kata saya, bagaimana tidak, dengan ringannya mereka berkata ‘kapir lu’. ‘sesat lu’ dan perkataan bodoh semisalnya. Saya hanya tertawa ringan sambil memantau dan me-like komentar-komentar mereka. Saya rasa ini adalah langkah yang tepat.

Secara tiba-tiba juga ada komentar di Majelis Pena yang mengatasnamakan Mas Sugeng. Dengan seketika saya tertawa bebas tak terkendali. Lucu banget lah, seorang Mas Sugeng masak menggunakan email acak-acakan, lebih-lebih tidak ada fotonya. Ini kan lucu?

Pada akhirnya saya memperoleh pelajaran yang sangat penting dari peristiwa ini. Bukan suatu pelajar tentang etika membuat judul, bukan. Tapi sebuah pelajaran bagaimana bersikap bijak dan membentengi diri dari derasnya aliran radikalisme.

Awalnya saya tak menyangka virus radikalisme bakalan masuk dalam dunia blogging. Tapi faktanya, tak sedikit para blogger yang terjangkit virus radikalisme. Bahayanya adalah, apa yang mereka tulis bukan malah menebar nilai perdamaian dan toleransi, tapi justru permusuhan dan membesar-besarkan perbedaan.

Alih-alih apa yang mereka asumsikan berlandaskan dasar yang kuat, justru blogger yang semacam ini basis keilmuannya berlandaskan ‘katanya-katanya’. Lantas bagaimana jadinya jika manusia radikalisme bertebaran dimana-mana, sedang keilmuannya masih berdasar sikap ‘taklid’? OMG

Saya sendiri juga merasa bersyukur, sebab apapun yang diluar diri saya harus terseleksi dengan sikap kritis dan logis. Terlalu bodoh bagi saya ketika seseorang men-judge tanpa harus bertabayyun terlebih dulu.

BACA JUGA:

Bukan maksud saya merasa paling pintar, bukan. Tapi saya hanya ingin membagikan bagaimana seharusnya bersikap. Merasa terpukau, boleh, tapi ada baiknya jika keterpukauan itu dikorek-korek lebih dalam dulu.

Tak ubahnya dengan artikel yang saya tulis. Komentar-komentar yang dilontarkan oleh mereka sama sekali tak menunjukkan adanya sikap bijak atau memberikan penjelasan yang logis. Yang ada hanyalah khutbah berantakan kesana-kemari tak jelas arahnya kemana.

Saya juga tidak bodoh, apa yang saya tulis tidak berhenti pada pembaca yang tak jelas. Saya coba meminta koreksi pada orang-orang yang lebih tinggi keilmuannya dari pada saya. Ternyata, mereka berkata, “Ini hanya permainan kata saja, tak perlu dikhawatirkan.” Mendengar pernyataan tersebut, hati saya agak tenang.

Terlepas dari itu, yang saya khawatirkan adalah mereka yang membawa ideologi radikalisme dengan seenaknya menebar benih kesana-kemari. Meski identitasnya dia seorang beragama, yang namanya radikalisme ya tetap radikalisme.

Bila Isis menebar ideologinya melalui iming-iming kekayaan dan bidadari surga, maka bisa dipastikan mereka akan menebar ideologinya melalui artikel-artikel ingusannya. Tapi sudahlah, saya tak perlu menghiraukan hal itu. Yang terpenting bagi saya adalah apa yang saya tulis bermanfaat bagi saya pribadi dan sekitar saya. Kalau toh ada yang merasa dirugikan, saya sudah mencantumkan disclaimer di web saya.

Inti yang mau saya sampaikan adalah, cobalah untuk bersikap kritis terhadap suatu teks, jangan ditelan secara mentah-mentah dan tetaplah bersikap terbuka. Tetap selalu bijak dalam berkata-kata, tak perlu merasa paling benar, dan juga sampaikan kritik secara baik dan logis.

Sebelum saya mengakhiri catatan ini, saya ingin menyampaikan sebuah asumsi ringan, “Seorang blogger akan berkata melalui karya-karyanya, seorang blogger juga akan mengkritik melalui karya-karyanya juga.”

Next Post

Comments 7

  1. Bodong says:

    Muka lu tai kebo

    • Tai Kebo says:

      TAI KEBO MUDA YANG MASIH IJO KALAU DIWARUNG POK ROGAYAH SEKARANG NAEK JADI LIMA BELA RIBU COOY

  2. Mukhofas says:

    sangat kritis. menurut nalar saya bisa diterima.

    mereka yg tidak kritis kurang piknik hahaha..

  3. Tai Kebo says:

    MENURUT DINAS PERTAIAN PANGAN, TAI KEBO SEKILO SEKARANG UDAH SEPULUH RIBU, DI PASAR ANYAR KOTA BOGOR.

  4. Berkacalah pada tulisan anda sendiri…. Apakah anda tida masuk dalam kata-kata yang anda sebutkan pada tulisan anda.

  5. kontol says:

    Kontol lu muke lu kaya tai kebo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *